Mubaligh Muhammadiyah Sebelum Dai Benum

0
129

Secara luas, arti Dai Benum sendiri merupakan sebuah istilah yang digunakan dikalangan Muhammadiyah untuk menyebut para mubaligh sekaligus guru guru Muhammadiyah yang mengenyam pendidikan di sekolah guru Muhammadiyah kemudian mulai mendapat tugas oleh Hoofdbestuur Muhammadiyah pada periode kepemimpinan K.H Ibrahim 1923-1932. Pada tahun Muktamar Tahun 1928 di  Yogyakarta, Sekolah Muhammadiyah Mu’allimin, Muallimat[1], Public School, Normaalschool diharuskan mengirimkan putra-putri lulusan sekolah tersebut ke seluruh pelosok tanah air. Para Dai Benum memiliki peran sebagai Guru Mubaligh sekaligus sebagai penyambung pemikiran Ahmad Dahlan yang nantinya bukan hanya sekedar memenuhi permintaan sebagai seorang guru agama Islam tetapi juga sebagai seorang Dai yang diamanahi sebuah misi dakwah Islam Muhammadiyah.

           Alasan Hoofdbestuur Muhammadiyah menjadikan sekolah guru Muhammadiyah adalah seiring dengan perkembangan rintisan cabang Muhammadiyah mulai bertambah banyak dan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga pengajar sekolah Muhammadiyah yang sudah banyak berdiri di Yogyakarta . Hoofdbestuur Muhammadiyah menyadari bahwa permintaan pembukaan cabang baru Muhammadiyah juga ikut berdampak kepada para penganjur Muhammadiyah yang harus dikirimkan ke setiap daerah untuk bisa ikut mengawal perintisan awal, Karena perintisan awal cabang muhammadiyah memang memilik syarat bahwa untuk membentuk suatu cabang baru Muhammadiyah, Diharuskan untuk memiliki amal usaha yang sudah terbentuk baik itu sekolah,masjid,surau atau panti usaha minimal selama 2 tahun.[2] Sehingga diperlukan banyak sekali tenaga tenaga baru untuk membantu kesuksesan pengembangan cabang baru Muhammadiyah yang baru dirintis.

Sebelum di kenal yang namanya istilah Dai Benum. Cara yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menyebarkan dakwah diawali dengan mengutus beberapa mubaligh-mubaligh yang ahli dalam urusan agama sekaligus merupakan penganjur Muhammadiyah, pada awalnya mereka melakukan tugas sebagai Guru Mubaligh secara sukarela. Para Mubaligh ini merasa bahwa mereka perlu memperkenalkan gagasan Muhammadiyah dalam pendidikan dan pengajaran Islam agar dapat menjangkau banyak orang Islam. Lambat laun,mereka Mulai ditugaskan dengan sebuah mandat dari Hoofdbestuur dengan tujuan agar dakwah muhammadiyah bisa lebih terorganisir dan  tepat sasaran agar bisa mendapat banyak peminat. Lalu mereka diminta oleh Hoofdbestuur Muhammadiyah untuk menyebarkan misi dakwah Muhammadiyah di berbagai daerah.

KH Ahmad Dahlan yang berkunjung ke beberapa daerah untuk menyebarkan dakwah sembari berdagang batik, sehingga muncul interaksi antara para pedagang sehingga kemudian mereka mulai membentuk sebuah grope-grope/ Kelompok Pengajian yang nantinya menjadi cikal bakal berdirinya cabang baru Muhamamdiyah. Begitu pula dengan beberapa tokoh awal penganjur Muhammadiyah seperti AR Sutan Mansur dari Minangkabau. Bersama dengan keponakannya, Buya HAMKA kemudian mereka menjadi Guru Mubaligh yang berdakwah keluar masuk daerah-daerah untuk menyampaikan dakwah. AR Fachruddin,Seorang putra asli Galur, Kulonprogo dan merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah terlama juga pernah dikirim ke daerah Musi Banyuasin Sumatera Selatan di tahun 1940. Ia membina para pemuda lokal yang kemudian di latih dalam gerakan kepanduan Muhammadiyah yang bernama Hizbul Wathon. Kemudian Sutan Mansur yang juga ditugaskan berdakwah di pelosok Aceh sekitar tahun 1927 an yang ikut keluar masuk desa daerah terpencil yang belum terjamah pendidikan dan dakwah Muhammadiyah. Masyarakat setempat dipandu oleh para kader muda itu kemudian mendirikan ranting mendirikan sekolah.

Cabang rintisan Muhammadiyah memiliki anggapan bahwa dalam usaha memajukan cabang muhammadiyah, diperlukan salah seorang perwakilan dari Yogyakarta atau langsung dikirim dari Hoofdbestuur Muhammadiyah guna membantu gerakan dakwah. Sehingga mendorong para perintis cabang awal Muhammadiyah untuk meminta agar ada kader atau mubaligh yang sudah bersentuhan langsung dengan gerakan Muhammadiyah atau yang sudah mengenyam pendidikan di sekolah muhammadiyah, Hal ini diperlukan agar bisa setidaknya menyamai gerakan serupa ditempat mereka terutama di daerah luar pulau Jawa.

Hal ini dibuktikan dengan sebuah temuan dari Almanak Muhammadiyah Tahun 1932, Yang menjelaskan terkait angkatan awal Dai Benum muhammadiyah.Tercatat mulai dikirim pasca muktamar Surakarta pada tahun 1928. [3]Lokasi yang menjadi sasaran dari Hoofdbestuur Muhammadiyah untuk dikirim para Dai Benum adalah dari Pulau sumatera yang meliputi beberapa daerah seperti Sumatera Utara, Bengkulu dan sumatera selatan.Kalimantan selatan dan Sulawesi juga dikirmkan beberapa Dai Benum Muhammadiyah,

Muktamar 1931 di Minangkabau juga menjadi salah satu alasan mengapa para Dai Benum mulai sering diterjunkan didaerah tersebut, Pasca diselenggarakanya Muktamar di Minangkabau. Banyak daerah daerah di Sumatera yang mengirimkan delegasinya ke muktamar dan berimbas kepada berkembang pesatnya rintisan cabang cabang baru muhammadiyah di Sumatera, Sehingga Hoofdbestuur Muhammadiyah kembali mengirimkan para Dai Benum Muhammadiyah guna memperkuat cabang-cabang rintisan tersebut.

Aulia Fathurrahman Darwis  (Pemerhati Sejarah)

[1] Amir Hamzah Wirjosoekarto (1968). Pembaharuan Pendidikan & Pengadjaran Islam jang Diselenggarakan oleh Persyarikatan Muhammadijah.Malang:Ken Mutia.).hlm. 72

[2] Alfian, Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization Under Dutch Colonialism. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.1989), hlm.267

[3] Almanak Muhammadiyah Tahun 1930

Sumber Foto :http://tabligh.muhammadiyah.or.id/content-3-sdet-sejarah.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here