Idulfitri: Merayakan Berlalunya Bulan Penuh Berkah

0
82

Bulan Ramadan kita ketahui sebagai bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, bulan di mana amal ibadah dilipat gandakan. Para sahabat nabi bersedih ketika bulan Ramadan akan segera berakhir dan mereka takut tidak akan dipertemukan lagi dengan bulan Ramadan tahun mendatang. Lalu, mengapa kita justru diminta untuk berhari raya tepat setelah bulan Ramadan berlalu?

Secara bahasa, “Idulfitri” berarti “hari raya berbuka” yang berarti bahwa umat muslim sudah diperkenankan untuk tidak berpuasa mulai hari itu hingga bulan Ramadan tahun depan. Bahkan, di hari Idulfitri umat muslim diharamkan untuk berpuasa.

Pada hari raya Idulfitri disunahkan untuk disambut dengan bergembira sesuai dengan hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa ketika beliau datang ke kota Madinah, penduduknya biasa merayakan dua hari raya yang mereka isi dengan bermain di masa jahiliyah. Beliau pun bersabda “Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari raya itu: Idulfitri dan Idul Adha.” (HR. Ahmad).

Lalu mengapa Idulfitri disunahkan untuk disambut gembira? Ada yang beralasan karena pada bulan Ramadan dosa-dosa kita telah diampuni sehingga kita kembali suci seperti bayi dan amal ibadah kita sudah banyak dan berlipat-lipat ganda. Namun, alasan ini saya rasa kurang tepat, karena belum tentu amal ibadah dan permohonan ampun kita diterima oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, ketika Idulfitri kita disunnahkan untuk saling mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum yang artinya semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kami dan (puasa dan amal) dari kalian.

Bahkan sebagian sahabat membagi 1 tahun menjadi 2 bagian. Selama 6 bulan setelah bulan Ramadan selalu berdoa agar amalan di bulan Ramadan yang lalu dapat diterima oleh Allah dan selama 6 bulan menjelang Ramadan para sahabat selalu berdoa agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan.

Bukan tidak boleh jikalau kita berkeyakinan amal ibadah dan permohonan ampun kita telah diterima, namun kita harus berhati-hati jangan sampai keyakinan itu membuat kita “mengakuisisi” kehendak Allah dalam menerima amal ibadah kita. Sejatinya hanya Allah yang tahu pasti apakah amal kita diterima atau tidak. Manusia hanya bisa menilai apakah amalan itu sah atau tidak berdasarkan pengamatan yang dicocokkan dengan tuntunan dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Jika memang amal kita belum tentu diterima, lalu mengapa kita harus bergembira ketika Idulfitri (sekaligus berpisah dengan Ramadan)? Alasan yang pasti adalah karena itu merupakan ketetapan Allah untuk bergembira dalam merayakan Idulfitri seperti hadis yang diungkapkan di atas.

Alasan lain yang mungkin bisa diterima, menurut saya, adalah kegembiraan itu dapat dianalogikan sebagai self-reward atas keberhasilan kita dalam melaksanakan “tantangan” dari Allah SWT selama bulan Ramadan. Karena konsepnya adalah self-reward, maka takaran kegembiraan ketika Idulfitri seharusnya sebanding dengan keberhasilan kita dalam melalui tantangan tersebut. Kalau banyak bolong puasa karena tergoda es kelapa muda, sering telat sholat maghrib karena buka bersama, atau sering skip tarawih karena kekenyangan, seharusnya rasa gembiranya tidak akan sebesar mereka yang mampu memaksimalkan ibadah di bulan Ramadan.

Namun yang sering terjadi, yang menyambut Idulfitri dengan kegembiraan berlebih adalah mereka yang tidak mampu memaksimalkan ibadah di bulan Ramadan. Sedangkan mereka yang kita pikir telah melaksanakan ibadah secara maksimal, justru tetap menyisakan rasa sedih ketika harus meninggalkan bulan Ramadan.

Untuk itu, mari kita nilai amalan kita masing-masing selama bulan Ramadan untuk dapat menentukan seberapa gembira kita dalam merayakan Idulfitri. Selain itu, saya harap tetap sisakan rasa sedih karena telah meninggalkan bulan Ramadan karena kita belum tentu dipertemukan kembali dengan bulan penuh rahmat ini. Biarkan rasa gembira dan sedih ini berkecamuk serta berpadu dalam jiwa sehingga kita menemukan salah satu arti keseimbangan dalam diri manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here