Intelektual Organik dalam Ber IMM

0
165

 

 

 

Kesadaran mahasiswa dalam mengambil peran seharusnya dimana dia berperan karena disibukkan dengan berbagai macam akademik yang seolah-olah menjadi tujuan utama,dan bahkan terkadang dari dirinya sendiri belum memahami apa sebenarnya peran dirinya sendiri sebagai seorang manusia yang terdidik.sehingga yang lahir dari cetakan-cetakan instan, sarjana-sarjana prematur, yang fasih melafalkan teori-teori rumit dan melangit, tetapi asing dengan problem-problem aktual yang kini membelit rakyat akar rumput.

 

Lalu belum sempurna nya kita ber IMm dan juga dalam melakukan gerakan menuju penyadaran seperti ini sehingga banyak gerakan sejenis yang mampu menghasilkan aksi nyata yang lebih masif dan tepat sasaran bahkan sekelas masjid sekalipun,sehingga Muhammadiyah kehilangan daya pikatnya sebagai gerakan berpihak kepada kaum yang diperlakukan tidak adil.

Kita sepenuhnya harus sadar apa yang seharusnya bisa kita lakukan  dalam mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi di lingkup cabang kita,kita perlu menyadari bahwa kita memerlukan sebuah ide guna menurunkan nya kepada teman teman di komisariat. Kita sungguh beruntung bisa menjadi bagian dari 2 Kampus terbesar di Indonesia (UGM dan UNY) , sehingga tanggung jawab kita sebagai bagian Muhammadiyah yang berkecimpung didalamnya menjadi semakin besar,akan tetapi justru hal tersebut yang membuat kita bisa semakin tertantang dalam bagaimana cara kita guna mengemban itu semua.

Salah satu gagasan yang amat tegas dalam menjawab persoalan-persoalan tersebut tersampaikan dari seorang Marxian bernama Antonio Gramsci , tentang sebuah kaum yang bernama Intelektual Organik. Gramsci melihat bahwa mahasiswa bisa menjadi pembawa perubahan dengan disiplin ilmunya dan tidak terjerumus kepada sifat yang meng elitkan dirinya dan memisahkan dirinya dengan masyarakat akibat gagasan yang sulit di pahami masyarakat awam.

 

Tugas dari seorang Intelektual Organik ini ialah bagaimana Memahami berbagai realitas sosial yang kemudian memberikan gagasan gagasan transformatif untuk keluar dari masalah tersebut. Dan berpihak kepada kaum musthadafin atau kaum tertindas.

 

Seperti kata Kuntowijoyo,”..Mahasiswa bisa meningkatkan skill dan kemampuan kecendikiawanan nya sehingga bisa di wujudkan dalam Masyarakat yang membutuhkan keilmuan nya..”. Contoh konkrit bisa diambil dari Haedar Nashir, Seorang Ketua Umum PP Muhammadiyah yang mampu menjalankan tugas dan perannya sebagai seorang cendekiawan kampus tanpa kehilangan karakter intelektual organik.

 

Sudahkah kita menjadi seorang mahasiswa kalau kita belum menjadi seorang Intelektual Organik yang mengedepankan ilmunya sebagai dasar gerakan guna ber amaliyah, Sekarang adalah saatnya kita untuk menjawab tantangan tersebut dan menjadikan dakwah Muhammadiyah yang kita emban menjadi semakin progresif sekaligus mengembirakan.

Mari kita bertumbuh bersama

 

Aulia Fathurrahman Darwis

Ketua Umum PC IMM BSKM Periode 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here