Istimewa Walaupun Tak Berkelana

0
77

Pandemi Covid-19, namanya sudah tidak asing lagi tentunya. Sejak awal Maret, virus yang sangat kecil dan tak kasat mata itu mengguncang banyak negara tak terkecuali Indonesia. WHO mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi sejak 11 Maret 2020. Kemudian, pemerintah mengambil kebijakan untuk kegiatan yang bisa dilakukan #dirumahaja, maka sebisa mungkin dilakukan di rumah atau  disebut work from home atau belajar online bagi para pelajar termasuk mahasiswa. Hal tersebut untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 yang semakin merebak. Sejak 14 Maret, pelajar dan mahasiswa diumumkan resmi untuk kuliah online atau daring.

Saat diumumkan kuliah secara online, aku  bersemangat dan gembira karena awalnya berpikiran kesempatan bagus untuk pulang, karena sudah lama tidak pulang walaupun  orang tua sering menjenguk ke Jogja. Jogja yang begitu istimewa sehingga terlalu asik untuk menyambangi kota ini tanpa bosan. Aku mengira kuliah online hanya seminggu, pulang hanya membawa beberapa buku saja tanpa persiapan. Lagi pula,pikirku hari Sabtu depan ada Milad IMM BSKM jadi aku harus kembali sebelum hari Sabtu. Ternyata, Allah berkehendak lain. Mungkin Allah ingin hamba-Nya beristirahat dari hiruk pikuk kesibukannya masing-masing. Allah ingin hamba-Nya kembali bermunajat lebih lama karena selama ini terlalu sibuk dengan urusan dunia.

Satu minggu berlalu, ternyata rencana acara-acara itu sirna. Covid-19 tak kunjung menurun grafiknya, hari demi hari semakin meninggi. Beberapa hari kemudian,kampus mengeluarkan surat edaran tentang kuliah online yang diperpanjang. Di minggu kedua itu,tingkat kepuasan untuk berada #dirumahaja menurun. Rasa bosan mulai merundung. Biasanya badan dibawa bergerak kesana-kemari, berkegiatan dari pagi hingga sore, sekarang disuruh diam #dirumahaja pasti kaget. Mulai dari itu, aku mencoba mencari kegiatan positif yang tetap bisa dilakukan walaupun #dirumahaja. Adaptasi dimulai.

Membiasakan sesuatu hal yang positif itu perlu waktu. Maka apabila dulu sudah menjadi kebiasaan, harus dipertahankan. Aku selalu ingat kata-kata ini ketika mulai males dan  mau menyerah “jangan pernah memaklumi dirimu,seburuk apapun keadaanmu”. Bangkit! Aku tidak ingin tubuhku  kubiarkan dimanjakan dengan rebahan. Banyak kegiatan baru yang dulunya tidak pernah aku lakukan.

Kegiatan pertama, aku mulai membiasakan diri untuk meningkatkan literasi. Membeli buku – buku yang akan menemaniku selama #dirumahaja sekaligus menambah ilmuku, aku pinjam juga ke temanku dan kakekku. Berhari-hari melatih diri untuk kuat membaca buku lebih lama, karena selama ini buku itu kaya hipnotisku untuk tidur. Baru buka sepuluh halaman, langsung menguap berkali-kali. Emang perlu proses berhari-hari hingga rasa nyaman saat membaca itu menghampiri. Aku membagi bacaanku menjadi dua jenis yaitu menghibur dan berpikir. Salah satu buku yang menghibur, layaknya anak remaja pada umumnya yaitu buku tentang cinta remaja. Bukan lagi membaca novel fiksi layaknya kisah cinta Romeo dan Juliet, rasa cinta itu fitrah ngga ada yang salah dari cinta, tetapi lebih ke bagaimana mengolah fitrah rasa itu agar tidak menjadi salah karena batasan cinta yang halal dan haram  itu sangat jelas. Kemudian buku yang membuat otak bekerja seperti menambah pengetahuan tentang agama.Semakin mencari tau, pasti ada rasa “kok ternyata ilmuku masih sedikit banget ya”, dari situ semangat mencari mulai menggebu. Kakekku yang dulunya orang departemen agama, saat aku lihat di rak-rak buku beliau, berderet buku tebal-tebal berseri. Aku coba lihat, ternyata banyak buku kitab, fiqih, terjemahan, filsafat, dan lain-lain. Akhirnya,kutemukan yang aku cari, yaitu buku Riadhus Shalihin, Duratus Shalihin, dan kawan-kawannya. Rasanya ingin berguru lebih lama dengan kakek tapi, tidak memungkinkan. Belajar hadits dan sunnah rasanya menarik sekali untuk aku yang masih awam. Aku baca-baca kalau perlu penjelasan lebih, aku tanyakan via telepon pada kakek atau pada orang yang aku anggap ilmunya mumpuni. Namanya ikhtiyar pasti perlu perjuangan.

Kegiatan kedua yaitu menulis. Aku terinspirasi oleh pemuda-pemuda hijrah yang tulisannya menarik, membuat orang-orang yang membaca menjadi tergerak hatinya untuk lebih baik. Nah, dari situ aku mulai menorehkan dalam sebuh tulisan tentang apa yang aku rasakan atau pengalaman  menarik yang mungkin bisa aku ceritakan. Aku coba mengikuti lomba-lomba menulis, yang gratis-gratis dulu aja. Awalnya aku insecure melihat tulisan orang lain yang bagus dan menarik, penggunaan  kata-katanya  indah, sedangkan aku masih pemula. Tetapi kalau aku tidak mencoba, kapan aku bisa seperti mereka. Aku selalu jadikan kata-kata ini sebagai penyemangat “Orang lain adalah motivator terbaik untuk memulai kita berubah.Tetapi orang lain juga indikator terburuk untuk memantau progress kita”. Dari situ aku sadar, kemampuan setiap orang berbeda, tetapi yang terpenting proses dan progress apa yang kita lakukan setiap harinya.

Kegiatan ketiga yaitu mencoba menambah keterampilan memasak. Aku terinspirasi oleh ibuku sendiri, bagaimana beliau sebisa mungkin ketika anak-anak dan suaminya ingin sesuatu makanan, pasti dibuatkan. Ibu seringkali bercandaan ketika aku minta sesuatu kemudian beliau masakin, terus  nyeloteh “Neng, besok kalo anakmu minta apa-apa, dibuatin juga loh,jangan apa-apa beli”. Dari situ selalu terngiang-ngiang kalau aku harus bisa masak. Setidaknya masakan-masakan sederhana harus bisa aku buat karena kalau buat sendiri lebih terjamin kesehatan dan kebersihannya. Jujur saja, dulu aku ngga berani memakai pisau, mengulek dengan ciri dan mutu karena selalu tidak halus, dan takut menyalakan kompor. Sekarang, sudah mulai menaklukan ketakutan itu.Mulai membuat makanan dan minuman dengan bermodalkan belajar dari youtube. Kalau di rumah ingin membuat macam-macam makanan, ngga harus mengeluarkan uang sendiri dan tentunya banyak yang bisa menikmati dan menghabiskan. Alhamdulillah keterampilan semakin meningkat, apresiasi setiap masakanku membuat semakin semangat untuk menggalihnya.

Kegiatan selanjutnya yaitu mengikuti diskusi online baik kajian maupun sharing tentang  suatu masalah. Saat #dirumahaja banyak yang mengadakan diskusi – diskusi dengan beraneka ragam bahasan, jadi tinggal pilih bahasan apa yang kita minati. Sayang sekali kalau tidak mengikuti sama sekali, karena gratis, jadi  hanya perlu niat dan meluangkan waktu. Sebelumnya, aku jarang sekali ikut diskusi, karena ya belum tertarik dan suka minder kalau liat orang lain ilmunya sudah banyak jadi pembicaraan mereka pun berkelas tinggi. Tetapi karena ini secara online, jadi aku beranikan diri untuk ikut, sebagai pemanasan kalau besok ada diskusi langsung dan sekaligus menambah wawasan supaya terbuka pemikirannya gitu.

Kegiatan lainnya yang sangat berharga  yaitu punya lebih banyak waktu sama Allah SWT. dan Al-Qur’an , bisa menyambut saat orang tua pulang kerja, bisa quality time ketika orang tua lagi jadwal  work from home, bisa nemenin adik seharian, latihan mengeksplor skill baru, birrul walidain lebih dari biasanya, dan mengikuti komunitas sosial. Jadi sesekali aku harus keluar rumah berbagi pada mereka yang tak seberuntung kita. Ketika sering ketemu dengan orang di luar sana yang bisa dikatakan kurang mampu, rasanya malu kalau masih suka mengeluh dan semakin meningkatkan rasa syukur. Sebenarnya ngga ada di kamus merasa “gabut”. Selagi diberi waktu dan sehat, maka gunakan untuk hal yang manfaat. Kalau capek istirahat secukupnya, takut nanti diminta pertanggung jawaban di akhirat kalo waktunya ngga diisi sesuatu yang bermanfaat.

Fastabiqul khairat sepanjang hayat, ketika sudah dipanggil kembali kepada-Nya, maka disitulah waktunya istirahat. Semangat meracik rasa baru dalam hidup.

-Harira Irba-

#diRumahAja

#IMMawati Punya Cerita

 

SHARE
Previous articleMakan Engga, Ya? Nyemil atau Jangan?
Next articleEunoia
Pimpinan cabang IMM Bulaksumur Karangmalang mewadahi kader IMM di UGM UNY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here