Kangen Ngumpul Bareng Kamu

0
40

Assalaamu’alaykum immawati.. pakabar?

Tulisan ini lahir karena keseringan difollow up untuk nulis di #immawatiBERCERITA dan saya terlalu minim soal ide. Semoga bermanfaat ya 🙂 meskipun sedikit luvv :*

Kalian pasti sudah tahu lah ya, penyakit apa yang menjangkiti orang-orang disekitar kita, di bangsa kita yang tercinta ini yang memakan ratusan korban jiwa dan ribuan pasien yang terkonfirmasi positif terinfeksi. Apa lagi kalau bukan Covid-19 yang baru-baru ini menjadi polemik yang cukup kontroversial terlebih bagaimana menekan penyebaran dan penularannya. Karena masyarakat Indonesia yang belum terbiasa akan hal ini sebagian besar masih tidak mau tahu (alias bodoamat) karena hal ini sejalan dengan asupan informasi atau pengetahuan yang mereka dapatkan masih relative rendah. Adapun sebagian lagi memiliki culture shock karena terlalu tahu bahkan informasi yang seharusnya tidak perlu tahu tapi dipaksa-paksa untuk dicari tahu. Dan dari pemerintah sendiri yang masih perlu dievaluasi bagaimana mengatur dan mengkondisikan suatu kebijakan yang tegas untuk dijadikan panduan dalam mencegahan dan penyebaran virus tersebut. Nah, sebagian masyarakat yang tidak tahu mengenai bahaya Covid-19 ini memiliki kecenderungan untuk bersikap bodoamat terhadap protokol kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dan acapkali pemerintah memperbaharui kebijakannya untuk memperketat orang-orang yang masih bandel dan melanggar aturan. Bahayanya lagi, orang-orang yang bersikap acuh tak acuh seperti ini menjadi pembawa virus yang tidak terlihat gejalanya. Penampakan dari fisik sih oke, tapi sebenarnya virus bersarang di dalam tubuhnya sedang dalam masa inkubasi dan tidak mencirikan gejala apapun namun virus ini masih bekerja aktif untuk ditularkan kepada oranglain. Semoga kamu bukan kategori ini yah J peduli dengan sesama minimal diam dirumah, kalo masih bisa galang dana ya lakuin aja atau membantu satuan tugas Covid-19. Seumuran mahasiswa kan masih gagah-gagahnya untuk berkontribusi. Ya nggak sih? wkwk

Untuk meminimalisir penularan, akhir-akhir ini pemerintah menghimbau untuk diterapkannya phisycal distancing bagi seluruh masyarakat Indonesia dan menekan beroperasinya kendaraan umum yang memicu persebaran virus. Bersamaan dengan adanya himbuan untuk physical distancing ini, seluruh aktivitas warga Indonesia diseluruh lini usia baik untuk pekerja, pelajar, mahasiswa dan seluruh karyawan untuk beraktivitas dirumah saja (Work From Home)  untuk memutus rantai penularan melalui cairan (droplet) yang berasal dari kontak langsung dalam suatu kerumunan massa yang akhir-akhir ini viral dengan hashtag #DiRumahAja yang menjadi ujung tombak dan  dijedanya agenda penelitian saya dan kawan-kawan lain karena kampus sedang lockdown (maaf curhat J).

Beberapa dari kalian mungkin terbiasa dengan agenda sosial, membutuhkan beberapa orang untuk bertukar pikiran, saling mendebat dan berujung pada baku hantam (#ehcanda) maksudnya berujung pada tawa satu sama lain. Dengan keadaan seperti sekarang ini kalian kangen rapat nggak sih? Kangen makan bareng? Atau hal konyol yang mungkin nggak bisa diwakilkan melalui pesan virtual apapun. Kemudian secara tiba-tiba semua agenda terkonversi menjadi daring dan segala informasi terbaca oleh mata yang tidak terkonfirmasi oleh telinga sehingga menyebabkan banyak tafsiran dalam setiap penyampaian. Untungnya masih ada media daring yang menyediakan ruang untuk bertemu tetapi untuk pesan sederhana cukup ribet jika menggunakan media meet yang proses aksesnya lumayan panjang dan kuota yang dikeluarkan tidak sereceh melalui platform seperti WhatsApp.

Beberapa kali sering kita temui bahwa dalam perjumpaan dunia nyata kita diminta untuk saling menghargai satu sama lain dengan cara memusatkan perhatian penuh dengan lawan bicara. Jika mobilitas pertemuan kita dengan manusia lain tinggi maka space untuk melihat dunia maya akan rendah dan bahkan cenderung tidak sempat. Tetapi realita hari ini berbicara bahwa orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi yang dalam setiap urusannya bersinggungan dengan orang banyak tidak bisa lepas dari dunia maya. Keadaan yang memaksa kita untuk terfokus pada layar baik laptop maupun gawai untuk memenuhi agenda-agenda sebelumnya yang dilakukan secara tatap muka maupun daring. Dan ini menjadi PR besar untuk kita pribadi bagaimana menyikapi penggunaan gawai atau barang-barang elektronik yang menyita fokus kita secara berlebihan sehingga aktivitas dunia nyata kita terbengkalai dan menimbulkan dampak terhadap kesehatan mata kita. Padahal dalam kondisi #DiRumahAja masih banyak sekali kegiatan produktif lain untuk sejenak mengistirahatkan fokus kita pada 1 layar. Namun tak sedikit juga yang mengatasnamakan #DiRumahAja sebagai kesempatan untuk goleran dan schroll ini itu, seolah-olah dengan berdiam saja itu sudah cukup. Padahal sebagai generasi muda, kamu tentunya punya kekuatan berfikir yang lebih karena sebelumnya sudah terfasilitasi dibangku kuliah. Sekilas memang ketika kita berdiam diri dirumah sudah cukup membantu pemerintah dalam mengatur warganya, akan tetapi dengan keilmuan yang kita miliki lalu dimana pertanggungjawabannya untuk kebermanfaatan ummat atau orang disekeliling kita? Oke jawab dalam hati saja. Karena “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lain” dan hanya kita sendirilah yang bisa mengukur kemampuan kita. Maafin karena belum bisa ngasih tips apapun, tapi kamu bisa bermanfaat versi kamu sendiri asal nggak goleran teros, ngPUBJ everytime, apalagi ngeSocmed seharian schroll pangeran Mateen wkwk yuk bermanfaat versimu.

-Sweet

Siti Khoirun Nasi’ah

#diRumahAja

#IMMawatiPunyaCerita

SHARE
Previous articleEunoia
Next article4 Langkah Hidup Sehat di Tengah Pandemi
Pimpinan cabang IMM Bulaksumur Karangmalang mewadahi kader IMM di UGM UNY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here