Kok Kotak Semua?

0
62

ditulis oleh Muhammad Haidar Azka (Kabid Media dan Komunikasi PK IMM Al-Khawarizmi UGM 2020)

Apakah kalian sering mengamati bangunan-bangunan yang dibangun belakangan ini? Jika boleh saya simpulkan secara subjektif maka akan saya katakan bahwa bangunan zaman sekarang memiliki kesan jelek dan repetitive, semua serba kotak-kotak seolah tidak ada bentuk dan pilihan lain. Coba bayangkan kehidupan sekitar 100 tahun yang lalu atau mungkin sekitar 200 tahun yang lalu. Bayangkan saja dahulu, yang pasti waktu itu Indonesia masih dijajah dan kehidupan masyarakatnya masih serba susah. Namun, salah satu hal yang saya kagumi dari peniggalan para penjajah adalah bangunannya. Bangunan putih, megah dan awet, mungkin itu adalah beberapa image yang tergambar Ketika kita memikirkan bangunan yang dibangun oleh para penjajah, khususnya dalam hal ini adalah peninggalan dari Belanda, dan lebih khusus lagi yang berarsitektur indische. Jika belum terlalu merasakan sensasinya, saya sarankan untuk mendatangi situs-situs semacam kota-kota tua yang masih banyak peninggalan bangunan lamanya, kota baru misalnya jika yang di Yogyakarta, Kota Lama di Semarang, Kota Tua di Jakarta dan tempat-tempat lainya agar bisa merasakan pengalaman ruang dan waktunya. Jika kita mundur lagi kemasa yang lebih lampau, maka akan kita temui bangunan-bangunan khas masa kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara yang pastinya juga memiliki ciri khasnya masing-masing. Belum lagi Ketika kita membicarakan juga bangunan-bangunan tradisional khas masing-masing daerah di Nusantara yang memiliki keunikan masing-masing dan mengusung prinsip arsitektur vernacular.

Setelah kita mengarungi masa lampau tadi, pernahkan kita memikirkan juga, kenapa bangunan-bangunan sekarang seolah berbeda dan seperti tidak ada hubunganya dengan bangunan dari masa lampau? Jika kita perhatikan, seolah-olah kebanyakan bangunan yang ada sekarang bukanlah suatu perkembangan dari apa yang sudah dibangun sebelumnya. Kita jarang menemukan kemegahan dan keawetan bangunan zaman sekarang seperti yang ada pada bangunan peninggalan Belanda. Kita juga jarang menemukan bagunan zaman sekarang yang memiliki filosofi dan makna yang mendalam seperti halnya bangunan-bangunan peninggalan masa kerajaan-kerajaan di Indonesia. Selain itu, yang agak disayangkan pula, kita jarang menemui bangunan-bangunan zaman sekarang yang menerapkan prinsip-prinsip dari rumah-rumah adat yang ada di Indonesia. Padalah, tiap rumah adat yang ada di Indonesia itu merupakan sebuah produk trial and error dari leluhur kita yang sudah diterapkan semenjak ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Walapun kesannya tradisional dan ketinggalan zaman, sebenarnya rumah-rumah adat tersebut memiliki teknologi-teknologi unik hasil kerja keras leluhur yang terbukti mampu bertahan dan memberika kenyamanan di lingkungan geografis Indonesia. Sebut saja rumah adat suku nias yang bahkan sudah ada teknologi penahan gempanya. Rumah adat dari Kalimantan yang ada pondasi panjangnya, dan lain sebagainya. Kembali lagi ke masa sekarang. Jadi, apa alasan yang menyebabkan bangunan zaman sekarang memiliki kesan jelek, repetitive, tidak memiliki filosofi dan lain sebagainya?

Tentu bukanlah suatu hal yang mudah menentukan penyebab dari suatu hal yang seolah tanpa kita sadari ini dan sifatnya sudah global. Namun setidaknya dengan melihat lagi alur sejarah dan mengamatinya secara lebih mendalam, setidaknya kita bisa mengira-ira alasan dibalik semua itu. Jika kita lihat alur sejarah, gejala-gejala bangunan seperti itu muncul sekitar awal  abad 20 masehi. Salah satu hal penting yang terjadi adalah terbitnya sebuah tulisan karya Adolf Loos yang berjudul ornament is crime pada tahun 1910. Dalam karyanya tersebut beliau menuliskan “to decorate a building with anything pretty was a sin against the true profession of an architect”. Atau yang sering dideklarasikan oleh para penganut aliran Arsitektur modern dengan istilah form follow function. Dengan kata lain, tampilan dari sebuah bangunan seharusnya tidak didesain dengan mempertimbangkan keindahan. Tentu saja munculnya pandangan tersebut juga disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya Karena pada masa itu aliran arsitektur baroque, art nouveau dan yang sejenis sedang terkesan berlebihan serta Muncul banyak sekali bangunan yang dipenuhi dengan dekorasi dan fasad yang berlebihan pula, sehingga disamping boros material  juga muncul kesan eneg Ketika melihatnya. Sementara itu disisi lain, bangunan-bangunan karya para penganut modernis masa awal, khususnya yang berasal dari client yang cukup kaya, menunjukkan sebuah seni yang elegan dan erat kaitanya dengan kesan bersih, simple dan tidak ribet. Pada tahap ini, semuanya masih baik-baik saja. Tiap mazhab masih bisa hidup dengan damai dan saling melengkapi. Namun, semuanya berubah saat segelintir orang menyadari sesuatu dan ingin memanfaatkanya demi keuntungan materi.

Segelintir orang tersebut mulai memanfaatkan tren functionalism yang sedang naik daun waktu itu. Orang-orang ini berpikir daripada harus menghabiskan uang atau apapun dalam jumlah yang besar demi terciptanya keindahan, maka lebih baik uang tersebut dialokasikan untuk membangun yang lain agar mendapat laba lebih banyak. Maka, mulai saat itulah mulai banyak bermunculan bangunan-bangunan yang dibangun hanya berdasarkan fungsinya saja.

Alasan lain atas permasalahan ini adalah diskursus tentang apa itu keindahan sendiri, khusunya dalam dunia arsitektur. Pada zaman dahulu, lebih tepatnya sebelum zaman modern, masih banyak ditemukan standar-standar apa saja yang menyebabkan sesuatu tersebut menjadi indah. Di dunia barat, ide ini pernah menjadi sebuah doktrin yang memunculkan aliran classicism. Pertama kali ditemukan oleh bangsa Yunani dan dikembangkan oleh  Bangsa Romawi, classicism juga mendefinisikan seperti apa bangunan yang indah itu selama lebih dari 1000 tahun hingga akhir abad pertengahan. dari Edingburgh hingga ke Charleston, ataupun dari Bordeaux hingga ke San Francisco, Karya-karya yang beraliran classicism ini masih bisa kita temui sampai sekarang. Hingga muncullah rasa ketidak setujuan, dalam hal ini beberapa orang mulai membuat sebuah perbandingan dengan gaya lain, sebut saja Gothic, Chinese, Baroque, Thai styles dan lain sebagainya. Pada akhirnya, perdebatan ini mulai memunculkan titik terang dan sebuah kesimpulan baru yang memiliki dampak kedepanya. Maka, secara tak tertulis dideklarasikan bahwa dalam masalah keindahan secara visual, tidak ada pihak yang dapat benar-benar memenangkan sebuah argument atau dengan kata lain tidak ada standar objektif mengenai keindahan sehingga keindahan hanyalah sebatas penilaian subjektif saja.

Seperti halnya sebab sebelumnya, gagasan kali ini juga menjadi sebuah kesempatan bagi segelintir orang. Tiba-tiba tidak ada orang yang berani dan diizinkan untuk berpendapat bahwa suatu karya atau bangunan adalah jelek dan tidak indah, karena semuanya serba subjektif. Contoh nyatanya adalah kita mungkin tidak menyukai bentuk suatu bangunan, walaupun disisi lain banyak juga orang-orang yang setuju dengan pendapat kita tersebut, namun Kembali lagi, semuanya hanya masalah subjektifitas, dan apa yang menjadi pendapat kita maupun orang-orang yang sependapat dengan kita hanyalah menjadi sekedar pendapat. Lalu seiring bertambahnya waktu, semuanya mulai tumbuh dan berkembang menuju ke arah yang tidak indah karena tidak ada seorangpun yang diperbolehkan untuk mengungkapkan kejelekan yang dilihatnya.

Setelah berpusing-pusing dengan konsep keindahan, maka munculah alasan yang berikutnya, yang juga merupakan usaha dalam mencapai keindahan  itu sendiri, yaitu soal orisinalitas. Sepanjang sejarah, jika kita perhatikan, orisinalitas sebenarnya menjadi hal terakhir yang perhatikan dalam arsitektur. Secara simple, tugas seorang arsitek hanyalah mambuat sebuah bangunan seperti yang lain, entah itu fungsi, bentuk dan strukturnya. Hal inilah yang diam-diam kurang disadari selama ini, membangun mengikuti tren, gaya atau aliran tertentu. Pada akhirnya arsitektur menjadi sebuah keindahan impersonal dan repetitive. Kemudian seiring dengan berkembangnya zaman, khususnya sekitar awal abad 20 masehi. Munculah sebuah gagasan bahwa arsitek adalah seorang yang memiliki unique vision yang perlu untuk diekspresikan. Hal ini mungkin menjadi sebuah penanda munculnya zaman baru bagi dunia arsitektur. Lalu, Tiba-tiba tiap arsitek saling berlomba untuk membuat bentuk bentuk yang aneh dan selama ini belum pernah terpikirkan. Namun pada akhirnya, masyarakatlah yang harus menanggung biaya yang besar atas unique vision ini. Tentu saja sebagai pelaksana dari unique vision  tersebut, dalam hal ini adalah client atau masyarakat, tidak mau menghabiskan uangnya untuk membangun  hal-hal aneh yang tidak sesuai dengan zamanya. Lama-kelamaan unique vision itu mulai luntur karena jarang terwujud dan hanya dapat menjadikan sebuah konsep desain saja. Pada akhirnya semua menjadi berubah, client adalah raja, apa yang didesai oleh arsitek atau desainer lainya merupakan sebuah presentasi dari keinginan dan subjektivitas client dengan sedikit campur tangan desainer.

Jika kita menengok Kembali ke bangunan-bangunan peniggalan masa lampau, selain yang pasti kita akan menemukan fasad dan struktur yang unik, kita juga akan menemukan fakta bahwa bangunan tersebut saling menggerombol. Berdasarkan ilmu sosial, hal ini merupakan suatu yang wajar karena dengan bergerombol atau membentuk sebuah koloni, aktivitas sosial akan menjadi lebih mudah. Selin itu juga lebih menjamin dari segi keamanan terhadap serangan dari luar. Namun tanpa kita sadari, seiring dengan berkembangnya transportasi, tiap orang menjadi lebih leluasa untuk berpindah-pindah tempat yang menjadikan batas-batas antar wilayah menjadi samar. Salah satu akibat yang timbul dari kejadian tersebut adalah memudarnya nilai-nilai kelokalan. Setidaknya dari hal-hal yang bersifat lokal tersebut dapat kita simpulkan beberapa hal dalam dunia arsitektur diantaranya adalah soal material dan ciri khas. Kita ketahui Bersama bahwa tiap-tiap wilayah dibumi ini memiliki SDA yang beraneka ragam. Hal ini selain menjadi sebuah kelebihan dan sebuah keunikan sendiri juga menimbulkan beberapa kekurangan. Misalnya saja dengan menggunakan material batu ataupun kayu seseorang bisa mendapatkan bangunan tinggi atau besar yang indah dan menawan namun akan sangat ksulitan untuk membuat struktur dan kostruksi dari bangunan tersebut. Intinya dari material lokal tersebut memang memiliki kelebihan yang dapat juga berupa ciri khasnya, namun juga memiliki kekurangan, entah itu masalah estetika, struktur dan konstruksinya dll. Kemudian seiring dengan berkembangnya zaman modern, mulailah diperkenalkan material-material baru dalam membangun, sebut saja baja, beton dan kaca. Pertimbanganya adalah material-material itu  dianggap memiliki daya tahan, mudah ditemui dan sudah terlanjur menjadi tren global. Lalu tiba-tiba semua bangunan menjadi terbuat dari bahan-bahan tersebut.

Last but not least, alasan yang selama ini belum banyak terlintas dipikiran orang  dan alasan ini jugalah yang paling saya kagetkan Ketika saya membaca artikelnya, yaitu para desainer, khususnya arsitek pada awal abad 20 masehi memiliki mental disorder. Betul, kalian tidak salah membaca, menurut artikel yang ditulis oleh Ann Susman dan Katie Chen untuk commonedge, mereka memaparkan bahwa para pendiri modernism memiliki cara yang khas dalam melihat dunia dikarenakan otak mereka telah berubah kerena trauma ataupun karena kelainan genetic. Lebih lanjutnya mereka menuliskan bahwa bapak modernism, Le Corbusier, arsitek Swiss-Prancis sebagai seorang penderita autis. Pendapat mereka ini didasarkan pada penelitian seorang psikiater yang bernama Anthony Daniels dan seorang penulis biografi bernama Nicholas Fox Weber yang juga menyimpulkan bahwa sang bapak modernism telah memenuhi kriteria diagnostic untuk autism spectrum disorder (ASD). Kesimpulan ini didasarkan pada komunikasi sosial yang terganggu, perilaku berulang-ulang, fiksasi yang abnormal, dan kurangnya minat pada orang lain. Lalu, apa hubungan mental disorder ini dengan desain? Menurut mereka Le Corbusier tidak dapat memproses rangsangan visual secara normal dan sering mengalammi visual overload yang disebut hyperarousal. Secara mudahnya orang dengan gejala ini memiliki kebiasaan untuk menyederhanakan pemandangan yang dilihatnya. Lebih lanjut lagi, mereka juga menuliskan bahwa Walter Gropius, orang yang membawa kurikulum modern ke Harvard Graduation School of Design dan Ludwig Mies van der Rohe, yang juga melakukan hal yang sama kepada Illinois Institute of Technology, kemungkinan besar menderita post-traumatic stress disorder (PTSD). Gangguan ini disebabkan karena kerusakan otak saat menjalani wajib militer pada masa PD II. Menurut Dr. Bessel van der Kolk, pendiri Trauma Center of Brookline MA dan seorang ahli PTSD menyatakan bahwa penderitanya akan kehilangan kemampuan untuk menafsirkan rangsangan ruang dengan cara yang normal atau neurotipikal dan gangguan secara signifikan dapat mengurangi kemampuan penderitanya untuk memahami dan berempati dengan orang lain. Apa yang dialami Le Corbusier, Walter Gropius, Mies van der Rohe dan juga orang-orang pada zamanya pastilah juga disebabkan karena kondisi dunia pada masa itu yang boleh dibilang sedang kacau, jika kita bandingkan dengan abad 21 sekarang. Bayangkan saja dunia yang penuh wabah dan peperangan itu, yang memakan banyak korban jiwa dan benda, maka kurang lebih begitulah hasil manusianya. Namun, terlepas dari itu semua, kerja keras dan desain dari para pendiri modernism ini patut kita acungi jempol, mereka telah membawa zaman baru bagi dunia yang selalu bergerak dinamis ini.

Terakhir sebagai penutup, yang ingin saya sampaikan adalah, dari sisi positif, dunia modern bertujuan untuk membuat semuanya tersedia secara murah dan dapat dijangkau secara universal, dan teknologi industrilah yang akan membantu mewujudkanya. Namun, sebagai akibat dari semua itu, pastilah ada yang harus kita korbankan yang dalam hal ini adalah sebuah keindahan. Tantangan bagi kita sekarang adalah terus berkembang sesuai dengan zaman tanpa meninggalkan apa itu keindahan serta mencegah setiap hal yang menghalangi kita menuju tujuan kita tersebut.

 

Lebih lanjut mengenai mental disorder yang membentuk dunia modern:

https://commonedge.org/the-mental-disorders-that-gave-us-modern-architecture/#:~:text=Writers%2C%20such%20as%20the%20critic,autism%20spectrum%20disorder%20(ASD).

https://www.bloomberg.com/news/articles/2018-01-25/what-s-the-point-in-trying-to-diagnose-le-corbusier-and-gropius

SHARE
Previous articleAgama-Religion-Diin
Next articleHidup Harus Berlaku
Pimpinan cabang IMM Bulaksumur Karangmalang mewadahi kader IMM di UGM UNY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here