#KultumVirtual | Dakwah bil Hal, Dakwah di Mal

0
444
©Sholeh Ade Cahyadi / IMM BSKM

Oleh: Aulia Taarufi*

Sebulan lalu seorang sahabat menghubungi saya. Ia mengajak saya berkunjung ke Blok M Square, Jakarta Selatan, untuk mengikuti kajian seorang ustadz yang tengah naik daun. Ngaji kok di mall, batin saya. Ternyata, masjid ini rutin mengadakan kajian tematik dengan pembicara yang ahli di bidangnya. Mirip dengan kajian-kajian keagamaan yang kerap saya temui di mimbar-mimbar masjid atau ruang diskusi lain di sekitaran kampus Jogja .

Belakangan saya ketahui, Blok M Square memiliki sebuah masjid indah nan megah yang berada di lantai paling atas bangunannya. Masjid ini tidak hanya digunakan oleh pengunjung mal untuk melakukan ibadah shalat 5 waktu ketika mereka tengah berada di pusat perbelanjaan tersebut. Masjid ini juga memiliki pengelola khusus atau takmir masjid sebagaimana masjid pada umumnya.

Jangan bayangkan kita akan shalat di sebuah ruang sempit yang hanya mampu menampung sedikit orang. Masjid di dalam pusat perbelanjaan dibangun megah dengan interior yang membuat nyaman pengunjung. Ruangannya pun memungkinkan untuk pengunjung bisa mengikuti shalat berjamaah tanpa harus mengantre, bergantian menunaikan ibadah shalat.

Berdasarkan penelusuran saya lewat jejaring internet, selain Blok M Square, pusat perbelanjaan lain yang juga memiliki tempat ibadah khusus, antara lain Grand Indonesia Shopping Town dan Senayan City. Lain di Jakarta, lain juga di Jogja. Sependek pengamatan saya, Ambarukmo Plaza salah satu mal di Jogja yang memiliki satu bangunan tersendiri untuk beribadah. sama seperti di Blok M Square, masjid tersebut berada di lantai atas plaza. Akan tetapi, hingga saat ini, saya belum mendapatkan informasi apakah masjid di Ambarukmo Plaza juga mengadakan kajian keagamaan rutin atau tidak.

Dakwah di Mal: Negosiasi yang Profan dengan yang Sekuler

Mal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat urban. Di tempat ini, masyarakat bisa dengan mudah membeli kebutuhan sehari-hari hingga berbagai kebutuhan penunjang gaya hidup. Sejarahnya, mal diciptakan untuk perempuan kelas menengah di Barat yang ingin menunjukkan keberdayaan diri mereka kepada publik. Mal juga digunakan sebagai lambang kebebasan dari peran-peran domestik yang dibebankan kepadanya.

Selama ini, mal diidentikkan dengan hal yang berbau konsumerisme. John Fiske (1989) mengatakan bahwa mall sebagai ‘cathedral of consumption’, sebagai metafora konsumerisme dimana komoditas menjadi ikon pemujaan dan ritual pertukaran uang dengan barang menjadi sesuatu yang suci.

Dengan metafora tersebut, berdakwah di dalam mal menjadi arena pertempuran ekonomi dan ideologi juga hegemoni dan praktik strategi. Dalam budaya Muslim, pergi ke mal atau pergi ke pasar diperlukan kehati-hatian karena pasar dekat dengan ‘setan’ yang akan membuat terlena dan menjadikan waktu yang kita miliki sia-sia saja. Apalagi godaan diskon dan pajangan barang dengan merek tertentu yang tak jarang membuat pengunjung menjadi impulsif untuk membeli barang sesuai keinginan bukan kebutuhan.

Di era modern, sesuai dengan minat masyarakat yang menginginkan kepraktisan dalam berkegiatan, manajemen mal membangun mal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan prinsip efisiensi. Pembangunan masjid di dalam mal merupakan prinsip efisiensi tersebut. Ketika pengunjung datang ke mal, tidak hanya berbelanja sebagai hiburan tersendiri, juga kebutuhan spiritual melalui pengajian yang diadakan di masjid dalam mal.

Mal menjadi ruang publik yang bertransformasi. Dari sekadar pusat perbelanjaan, juga menjadi tempat orang menimba ilmu. Tentu, tetap menggunakan strategi pasar untuk menggaet pengunjung agar tetap berbelanja sambil mendengarkan kajian agama.

Pendakwah di Mal

Kajian keagamaan yang rutin diadakan di masjid dalam mal mengangkat tema permasalahan kehidupan sehari-hari. Mengingat masjid di mal adalah ruang publik yang dapat diakses oleh semua orang tanpa melihat golongan organisasi tertentu, maka kajian dan pengkaji yang hadir pun dipilih sesuai dengan tema kajian dalam konteks global agar cocok untuk kehidupan pengunjung mal yang kebanyakan kelas menengah, terpelajar, dan tinggal di wilayah urban.
Persoalan identitas dan konsumsi, tata cara ibadah, hingga persiapan jangka panjang sebagai umat Muslim menuju akhirat menjadi tema kajian rutin dibandingkan tema-tema politis agama. Pengkaji yang hadir pun dipilih dengan gaya kajian yang tidak terlalu formalis. Beberapa nama pendakwah memberikan isi dakwahnya berdasarkan Islam yang secara sosial lebih konservatif.

Pengalaman saya pribadi yang tumbuh di kota urban, mayoritas masyarakat mendapatkan pelajaran agama dari sekolah formal yang diberikan hanya selama 2 jam pelajaran dalam seminggu, tanpa tambahan ilmu dari kegiatan non formal, seperti pesantren ataupun taman pendidikan Al-Quran. Kekeringan spiritual tanpa akar pemahaman agama seakan mendapatkan oase baru dalam hidup mereka.

Muhammadiyah dan Dakwah di Mal

Melihat kultur baru masyarakat urban dalam menyampaikan dakwah, Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat Muslim yang besar di Indonesia juga mulai menyampaikan dakwahnya di ruang-ruang publik yang dianggap belum lazim. Sependek pengamatan penulis, Muhammadiyah melalui Suara Muhammadiyah sudah kali kedua mengadakan kegiatan berskala nasional di Jogja City Mall dan Hartono Mall dalam kegiatan Muhammadiyah Expo.

Menurut Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah seperti dikutip dalam laman suaramuhammadiyah.id menyebutkan bahwa kegiatan dakwah di mal bukanlah kegiatan yang salah, justru ini menjadi tantangan bagi Muhammadiyah untuk mampu menghadirkan Islam dan Persyarikatan dalam ruang publik yang berbeda. Muhammadiyah menjadikan dakwah di mal sebagai gerakan dakwah kultural.

Barangkali strategi berdakwah yang sudah dilakukan Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Expo dapat dimasifkan keberadaannya. Mengingat selama ini kajian keagamaan dari organisasi kemasyarakatan ini masih berada di ruang-ruang eksklusif, dihadiri sebatas orang-orang yang mendeklarasikan diri sebagai bagian dari kedua ormas tsb. Sehingga masyarakat awam merasa takut-takut untuk mengikuti kajian karena merasa bukan bagian dari mereka. (*)

Bahan bacaan:
John Fiske (1989) Shopping for Pleasure: Malls, Power, and Resistance.
George Ritzer (2010) Teori Sosiologi Modern, terjemahan Kencana Premedia Group.

Penulis adalah Mahasiswi di Prodi Kajian Budaya dan Media UGM, pernah di PK IMM Ibnu Khaldun UGM, sekarang beraktivitas di MDMC PP Muhammadiyah. Dapat ber-ta’aruf melalui twitter @auliataarufi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here