Memaknai Islam dari Dimensi Transeden dan Imanen

0
55

Islam sebagai agama, tidak melulu tentang hal liturgis seremonial. Dimensi Islam lebih dari sebuah ajaran penyembahan Tuhan yang Esa. Dalam pengamalannya sejumlah kelompok memandang Islam hanya sebuah ajaran yang mendekatankan dirinya pada hal teologis, bahkan lebih sempit bahwa beragama (Islam) cukup dengan melakukan ibadah keseharian wajib yang merupakan kebutuhan rohani individu. Pandangan ini agaknya tidak terlalu melenceng, namun di lain sisi sangat mencederai esensi kehadiran agama.

Adapun Islam memiliki dua dimensi yang fundamental, yakni : Transenden dan Imanen. Menurut Mudhofir (2001), transendensi adalah aplikasi prinsip-prinsip pemahaman murni yang melampauai batas pengalaman, dalam konteks ini transendensi merupakan prinsip hubungan sesuatu yang tak terlihat antara manusia dan penciptanya. Sedangkan imanensi merupakan lawan dari Transendensi yakni hal yang bersangkut-pautan dengan keberadaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dua dimensi Agama Islam ini yang menurunkan hukum-hukum dan konsep beragama Islam secara kaffah (Q.S. 2:208). Dalam konsep keberagamaan Muhammadiyah dikenal kolaborasi 2 dimensi ini menjadi tauhid sosial yang merupakan dimensi sosial dari pengakuan kita bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu adalah Rasul-Nya. Sebagai muslim, tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati, tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk perbuatan. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, berarti semua ibadah murni (mahdhah), seperti shalat, puasa, haji, dan seterusnya, memiliki dimensi sosial. Kualitas ibadah seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut mempengaruhi perilaku sosialnya (Rais, 2001).

Menurut Abdul Malik Usman (2020) dalam ceramahnya, bahwa seseorang tidak dapat disebut orang yang telah mendapat kadar spiritualitas apabila agama seseorang hanya semata menjalankan ibadah formal tanpa dibarengi dengan rasa kepedulian terhadap sesama. Menurut Fauzia (2016) dalam bukunya Filantropi Islam, bahwa kepedulian terhadap sesama atau dapat dipadankan dengan filantropi, memiliki 3 kedudukan dalam Islam, yakni :

  1. Kewajiban Agama

Dalam ajaran Islam, filantropi bahkan menjadi suatu kewajiban. Hal ini terbukti pada rukun Islam yang ke-4 yaitu menunaikan zakat. Selain itu terdapat bentuk filantropi Islam yang lain selain zakat adalah sedekah dan waqaf. Dengan itu, Islam menempatkan filantropi dalam ranah ritualitas.

  1. Moralitas Agama

Islam menekankan bahwa zakat bukan hanya kewajiban ritualitas tetapi jauh melampaui itu, yaitu merupakan wujud keimanan seseorang terhadap Tuhannya.

  1. Keadilan Sosial

Pada poin ini, Islam memang menjadi dasar pengilhaman Pancasila ke-5 yaitu “Keadilan sosial…”. Dalam konteks filantropi, keadilan sosial mencakup hak-hak masyarakat yang tidak mampu (miskin) untuk mendapatkan bantuan, distribusi kekayaan dan menjaga tingkat pemerataan ekonomi (Mulkhan dkk., 2017)

Sehingga dapat dipahami bahwa hal transenden dari Islam tidak tepat hanya menjadi konsep maupun kebermanfaatan individu, melainkan hal transeden tersebut yang disebut tauhid harus diaplikasikan dengan bentuk amal salih. Selain amalan liturgis formal yang merupakan hal fundamental, amal salih juga harus memiliki dampak bagi lingkungan sekitar. Dengan itu, konsepsi Islam sebagai Agama Tauhid dapat menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Afghan Azka Falah, Ketua Koordinator Komisariat IMM UGM 2019-2020

(Karya ini merupakan penugasan awal Pondok Ramadhan Al-Maghribi Online PC IMM Bantul Pada tanggal 27 April – 5 Mei 2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here