Merangkul Habitus, Melampaui Bourdieu

0
46

 

 

Apabila anda pernah terpikir tentang “Apakah ini kehendak bebas atau determinisme?” dalam kehidupan sehari-sehari seperti memilih makanan, cara berpakaian, dan ruang pergaulan, barangkali Bourdieu bisa sedikit membantu menganalisis hidup anda. Atau kalau anda yakin bahwa segala tindakan adalah akibat dari kekuasaan sebagaimana Bourdieu, mari kembali merefleksi dan melampauinya.

 

Pierre Bourdieu tidak berpandangan seperti kebanyakan tradisi pemikiran sosial yang berkembang di Perancis pada pertengahan abad 20. Ia menyadari bahwa terdapat kekeliruan dalam pemahaman epistemologi—cara mengetahui—yang terjadi dalam filsafat, terutama pada tradisi intelektual Perancis. Pertentangan teoretis antara objektivisme dan subjektivisme merupakan perdebatan yang tak kunjung usai, hingga dinilai tidak mampu memberikan solusi yang memuaskan dalam ranah praktis.

 

Kesadaran ini didapat dari pengalamannya ketika bergabung dalam Penugasan Militer ke Aljazair. Studi etnografis yang dilakukannya selama di sana mengantarkan Bourdieu pada rasa empati terhadap warga negara Aljazair yang mengalami penderitaan perang. Ia menyadari bahwa fenomena aktual tidak dapat dianalisis secara sempit melalui pendakatan objektivisme atau subjektivisme. Sebab baginya, hal ini tidak akan mendekati kebenaran secara utuh. Menurut Bourdieu, subjektivisme gagal memahami landasan sosial yang membentuk kesadaran. Begitupun objektivisme, gagal pula mengenali konsepsi dan representasi individu yang membentuk dunia sosial.

 

Lantas, Teori Praktik Bourdieu berupaya mendamaikan kedua dikotomi tersebut dalam praktik keseharian. Ia menghindarkan diri pada penjelasan dalam kehidupan sosial yang cenderung deterministik—bahwa orang bertindak layaknya robot yang terprogram ke dalam suatu tindakan sesuai dengan pola yang ditentukan—namun juga berusaha membebaskan dari terhadap kecenderungan memahami tindakan manusia yang dipandang secara positif penuh kesadaran dan pertimbangan (free will).

 

Habitus

Habitus merupakan konsep sentral dalam Teori Praktik Pierre Bourdieu. Habitus bukanlah habit (kebiasaan) yang merupakan model adopsi dari kondisi yang telah ada. Habitus yang dimaksud Bourdieu menekankan pada peran aktif individu dalam mengonstruksi realitas. Melalui habitus, Bourdieu menjelaskan serangkaian skema dalam mempersepsi, berpikir, merasa, mengevaluasi, berbicara, dan bertindak sehingga membentuk keseluruhan perwujudan tindakan dan ucapan seseorang. Ini bersifat tahan lama, berkembang secara kontinyu sesuai dengan konteks keadaan, dan selalu diperkuat oleh pengalaman-pengalaman yang selalu berlanjut. Habitus yang dikenalkan Bourdieu menjawab berbagai logika tentang tindakan sosial. Inti dari habitus terletak pada kecenderungan individu untuk selalu bertindak dengan cara yang sama dalam situasi yang sama.

 

Pengamatannya terhadap masyarakat Kabyle di Aljazair dan masyarakat pedesaan di Perancis menjelaskan bahwa habitus masyarakat dirusak oleh dominasi-dominasi simbolik lewat ekonomi, politik, dan budaya. Sebagai contoh, hubungan interpersonal yang didasarkan habitus di Aljazair dirusak oleh kolonisasi dan perang akibat kekuasaan-kekuasaan. Dalam kehidupan pribadi Bourdieu, dirinya sebagai pelajar dari pedesaan mengalami dominasi simbolik saat harus bersusah-payah untuk masuk ENS, sekolah tinggi paling bergengsi di Perancis. Sedangkan, mudah bagi warga kelas atas kota Paris untuk masuk ke sekolah tinggi manapun.

 

Dari sini, ia menyadari bahwa pemahaman kualitatif, khususnya dengan melibatkan sosiologi, merupakan cara untuk membebaskan masyarakat dari dominasi. Baginya, ilmu pengetahuan logis hanya berputar pada fakta-fakta objektif hingga mereduksi nilai-nilai individual dan kemasyarakatan yang merupakan fakta subjektif. Sebaliknya, intervensi sosiologis akan menuntut partisipasi aktif dan penghayatan dari pelaku untuk terlibat dalam perjuangan bersama mengenai masalah-masalah politik dan sosial. Konsekuensinya atas upaya ini adalah aktualitasi nilai habitus yang merupakan lawan dari kekuasaan dan menghasilkan kesadaran untuk melawannya.

 

Sayangnya, jika kita menggunakan analisis Bourdieu secara konsisten, semua kasus empiris akan melulu tentang kekuasaan. Etika, yang bisa jadi mampu mengatasi dominasi alih-alih akan dianggap oleh Bourdieu sebagai produk dari dominasi itu sendiri, sehingga etika tidak dapat dibenarkan. Di sini, Bourdieu gagal untuk mengakui bahwa etika dan moral, secara otomatis dapat menciptakan penghargaan, yang merupakan dasar untuk menciptakan kekuasaan. Misalnya, jika saya berpikir bahwa seseorang harus berani, saya akan memandang lebih orang-orang yang berani dan memandang rendah para pengecut. Ini berarti bahwa tindakan bermoral bukan disebabkan karena adanya dominasi, tetapi sebaliknya: Kepemilikan kekuasaan simbolik (penghargaan) adalah efek samping/imbalan dari tindakan bermoral.

 

Akhirnya, meletakkan etika sebagai potensi pengembangan habitus adalah cara paling memungkinkan untuk mengikuti nasihat Bourdieu: Mengoptimalkan habitus dengan menjalankan tindakan-tindakan etis (berdasarkan ideologi) untuk memperoleh kekuatan.

 

Nadia Elasalam Hisyam, Merupakan Lulusan Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Merupakan Alumni IMM BSKM

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here