“Milad IMM Ke 57,  Harapan Lokomotif Dakwah Mahasiswa untuk Islam Washatiyah”

0
64

Oleh Immawan Alex, S.Pd

( Kader dan Pimpinan PC IMM BSKM DIY/ Mahasiswa Magister PPKn UNY )

                Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang kemudian dengan sebutan IMM hari ini memasuki usia ke 57 Tahun, tentu bukan umur yang muda untuk sebuah organisasi kader,ummat, dan bangsa yang menjadi anak kandung dari Muhammadiyah. Di usia yang di tengah satu dasarwarsa ini, kiprah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah telah memberikan sumbangsih yang besar kepada Ikatan, persyarikatan, dan bangsa Indonesia ini. Jajaran para tokoh dan alumni dari pimpinan IMM ini seperti Prof. Amin Rais, Prof Din Syamsuddin dan tokoh lainnya sudah sangat jelas bagaimana sumbangsih pemikiran dan tenaganya untuk sebuah Polis atapun tempat keceriaan dan berbahagia yang kemudian kita kenal Indonesia ini. Lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah itu bukan hanya sekadar menjadi anak kandung dari Muhammadiyah atau organisasi otonomnya namun karena problematika keummatan dan kebangsaan di awal didirikannya. Saat itu terjadi keresahan intelektual dalam hal ancaman gerakan radikal dan liberal yang mengkhawatirkan Indonesia dengan mencoba lari dalam hakikat Pancasila lebih khususnya ancaman menyentuh ranah kaum muda dikalangan mahasiswa. Sejak Indonesia merdeka hingga saat ini, problem bangsa dan negara memang tak kunjung usai namun itu sesuatu yang wajar karena di tengah multlikuturalisme yang terjadi sehingga untuk mencapai negara yang adil, makmur dan sentosa itu memerlukan kerja keras dari semua elemen yang ada dalam negara.

Dewasa ini kita sering dan tahu mendengar tentang sebuah kalimat yang dikenal dengan ungkapan “ Islam Washatiyah “, tentu di kalangan pembaca lebih khususnya kita di IMM pasti sudah sering mendengar bahkan di Muhammadiyah ayahanda Pimpinan Pusat sering membicarakan dan menyampaikannya baik dengan sebuah kajian atapun tulisan di berbagai media. Almarhum Prof Yunahar Ilyas menjelaskan bahwa “dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 143 bahwa kita sebagai Islam yang dijadikan sebagai ummat “ wasthan “ , tengahan , supaya kita menjadi contoh suri tauladan untuk manusia “ , penjelasan ayat terkait Islam Wasahtiyah pernah dibahas di Bogor selama 3 hari dalam kegiatan konsultasi ummat dan ulama Islam di Dunia. Prof Yunahar merupakan pembicara dari Indonesia dengan judul Islam Wasthiyah Pengalaman Indonesia. Arti paling utama dari Wasathiyah adalah attawassuf yang berarti tengahan, karena memang susah untuk mencari padanan kata dalam Indonesia sehingga bisa disebut juga sebagai Islam Moderat. Maksud dari Islam tengahan ini bahwa menjadi Islam tengahan itu dengan sesuai Perintah Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, ini selaras dengan harapan kita di Muhammadiyah bagaimana kita kembali dan tetap berpedoman pada Alquran dan Assunnah.

Islam Wasathiyah adalah bagaimana sebagai sosok ummat Islam kita menjadi Ummat yang tidak berlebihan . Bahwa dalam kehidupan ini kita tidak boleh menyimpan dalam agama atau dalam artian overdosis ,tatarruf sikap yang berlebihan dan Ittrats  sikap yang kurang , kita tidak boleh bersikap dan berpandangan seperti itu, sehingga kita harusnya menjadi Islam tengahan yaitu memilih jalan yang lurus. Karena dalam dunia ini kita beragama dan beribadah kita harus gembira, maka di Muhammadiyah kita mengenal istilah Islam Berkemajuan. Islam berkemajuan merupakan salah satu dari representatif dari ‘bahagia’ itu bahwa dalam dakwah kita tidak boleh memaksa, tidak untuk membuat orang takut, karena kemajuan dalam Islam salah satunya adalah masyarakat menjadi bahagia, seperti bagaimana ketika Nabi Muhammad SAW memberikan mandat kepada Abu Musa, sahabat beliau untuk berdakwa ke Yaman , Nabi berpesan sesampainya di sana hendaklah kamu membuat orang bahagia, membuat nyaman dan senang akan kehadiran mu berdakwah.

Salah satu cendikawan Muslim Indonesia Prof Quraish Shihab mengatakan bahwa kunci untuk mencapai dan menjadi Islam Wasathiyah ada tiga yaitu pertama, seseorang harus memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk mampu berbicara dan menjelaskan apalagi mendakwakan Islam Wastahiyah ini, nah di Ikatan Mahasiswa Mhammadiyah kita memiliki Tri Komptensi dan Trilogi Gerakan, sebagai kader IMM salah satunya harus memiliki kemapanan pengetahuan dan intelektual, karena untuk membumikan dan mendiasporakan Islam Wasathiyah ini harus lebih awal kita memiliki komptensi ilmu itu dan sampai saat ini saya merasa yakin sejak lahirnya IMM sampai saat ini masih tetap menjaga dan memberikan asupan intelektual kepada kader-kader di IMM baik melalui forum perkaderan yang sudah terstruktur dengan baik mulai dari fase dan muatan di setiap tingkatannya maupun di ranah forum diskusi, mulai dari tingkat komisariat sampai ke tingkat pimpinan pusat IMM masih istiqomah untuk memberikan wadah intelektual untuk mencapai peradaban Islam Wasthiyah ini. Kedua, mampu mengontrol emosi beragama, maksudnya adalah setiap individu mampu menghadirkan dalam dirinya sifat dan sikap intelektual dengan rasa toleransi agar tidak terjadi kebablasan dalam berdakwah, karena banyak terjadi di masyarakat kita seseorang karena terbawah emosinya terkadang kepada sauadara se agama masih saling meyalahkan padahal selama tidak menyalahi prinsip dasar dari kegiatan itu dan tetap berpedoman pada Alquran dan Assunnah maka kita tidak bisa mengkafirkan seseorang ataupun kelompok karena jelas dalam Alquran surah As-Saba bagaiamana Allah menyampaikan kepada kita bahwa kebenaran dan penghukuman akan dosa dan ketidaksesuain sesuatu itu pokoknya ada pada Allah untuk memutuskan. Ketiga , kita pula harus selalu bersikap hati-hati ini juga merupakan ciri Islam Wasathiyah yaitu kita tetap berhati-hati dalam bersikap untuk menentukan apakah yang dilakukan ini baik bahkan dengan sikap ini kita bisa menentukan pilihan yang paling baik di antara yang baik.

Dari ungkapan diatas saya melihat sebuah peran dan tanggung jawab besar saat ini untuk kita di IMM sebagai kader Muhammadiyah untuk bagaimana istiqomah dalam memperkaya kahasanah keilmuan dan khasanah pengalaman agar nantinya tidak menerima tamparan akibat kita tidak merasa dan tidak memiliki tanggung jawab sosial, sebagai aktivis di IMM maka sudah kewajiban kita sesuai dengan tujuan kita bagaimana menjadi akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah, apalagi IMM adalah organisasi kemahasiswa Islam yang basis gerakan besarnya ada di kampus-kampus yang di dalamnya terdapat mahasiswa yang menjadi tumpuan dan harapan di lini pemuda untuk bisa meberikan pengaruh yang baik dan kontribsui nyata , nantinya di antara kita bisa saja akan ada yang menjadi akademisi di ranah formal seperti menjadi tenaga pendidik, akan ada juga yang menjadi pejabat di lingkungan negara dan ada pula yang menjadi tokoh masyarakat di kampung masing-masinbg dan lain-lainnya, namun harpan di momentum milad ini semoga kita tetap menjaga budaya kekeluargaan dan kultur di Ikatan dengan tetap memperlihatkan bentuk peduli kepada ikatan dan kader-kader ketika nantinya kita sudah diberi amanah Power atau kekuasan , dan kita sebagai kader jangan cepat puas dengan apa yang kita memliki tetap kembangkan diri dan asah inteletual kita dan di IMM kita bisa dapatkan itu dengan cara berproses dengan ikhlas dan tulus dan tetap berpegang teguh pada Alquran dan Assunah sehingga Islam Wasathiyah ini bukan sekadar jargon namun lebih kepada itu bagaimana sampai pada masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dan berada dalam negara yang madani dan diridhai Allah SWT.

Alex, S.Pd

Kader dan Pimpinan PC IMM BSKM DIY/ Mahasiswa Magister PPKn UNY )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here