Naturalisasi dan Nasionalisme

1
233

Oleh: Mufliha Fahmi*

Harusnya malam ini saya membaca jurnal-jurnal dan berkonsentrasi pada penulisan skripsi. Namun, itu tidak saya lakukan. Godaan untuk melihat pertandingan semifinal Piala AFF Suzuki 2010 antara Indonesia melawan Filipina lebih menarik minat saya daripada tugas-tugas akhir kuliah. Dan saya tak menyesal, meski kurang lebih sembilan puluh menit waktu tersita didepan TV, sebab melihat Tim Garuda kembali menang.

Ada yang menarik pada pertandingan kali ini. Indonesia berhadapan dengan Filipina yang diperkuat oleh sembilan orang pemain naturalisasi. Sepanjang pertandingan, saya memang hanya melihat wajah-wajah blasteran Eropa di Tim Filipina (jujur, sungguh menyenangkan menatap wajah-wajah tampan Younghusband Bersaudara berkeliaran kesana kemari). Melaju ke semifinal Piala AFF adalah sejarah baru dalam persepakbolaan Filipina, setelah sebelumnya mereka hanya menjadi juru kunci dan menjadi bulan-bulanan tim sepakbola negara-negara Asia Tenggara. Namun, segalanya berubah setelah Filipina melakukan naturalisasi pada banyak pemain asing, termasuk pada Philiph Younghusband yang belajar sepakbola di Akademi Chelsea sejak berumur sembilan tahun.

Berdasarkan statistik sebelum pertandingan terakhir, Indonesia memiliki catatan enam belas kali menang melawan Filipina. Namun, catatan statistik ini menjadi tak berarti apa-apa ketika yang dihadapi adalah Tim Filipina yang penuh pemain naturalisasi. Maka wajar ketika sebelum pertandingan Tim Indonesia cukup tegang menghadapi Filipina yang (katanya) para pemainnya banyak dibesarkan di Eropa. Tapi, toh akhirnya Timnas Indonesia kembali menunjukkan kualitas dan konsistensi permainan bagusnya. Buat saya pribadi, kemenangan Indonesia melawan Filipina malam ini menyisakan dua catatan penting dan menarik.

Pertama, naturalisasi dan nasionalisme. Dengan melihat banyaknya pemain naturalisasi di Tim Filipina dan buruknya prestasi sepakbola mereka sebelumnya, saya berkesimpulan bahwa naturalisasi pemain yang dilakukan oleh Filipina betul-betul hanya solusi instan belaka atas sepakbola mereka yang “tidak ada apa-apanya” di Asia Tenggara. Terbukti, tak ada wajah pribumi Filipina yang menonjol pada pertandingan Indonesia melawan Filipina malam ini. Hal yang paling dicemaskan dari naturalisasi adalah pemain naturalisasi tidak akan sepenuh hati atau tidak akan bersungguh-sungguh dalam membela negara barunya. Sepakbola yang ditunjukkan Filipina pada pertandingan malam ini adalah sepakbola yang penuh pertunjukan skill individu. Jelas mereka bermain baik, namun sulit menyebut mereka bermain sepenuh hati atas dasar kecintaan pada negara mereka, Filipina. Sebutlah mereka tak memiliki rasa nasionalisme, sebab naturalisasi memang lebih sering persoalan untung-rugi dan kepentingan diri.

Lalu, seberapa penting kah rasa nasionalisme dalam permainan sepakbola? Merujuk pada Huszer dan Stevension, nasionalisme adalah rasa cinta alamiah pada Tanah Air. Rasa cinta alamiah adalah rasa cinta yang tak dapat ditolak-tolak, hadir dengan sendirinya didalam hati seseorang. Selain skill individu, kekompakan antar pemain, dan strategi pelatih, nasionalisme merupakan faktor penting lainnya atas kemenangan sebuah tim. Bukankah kita akan berjuang habis-habisan dan memberikan yang terbaik untuk sesuatu yang kita cintai? Karena itu, rasa nasionalisme bersifat psikologis-motivasional, sebuah faktor non-teknis yang mendorong munculnya etos dan semangat dalam permainan.  Sepakbola bukan melulu soal teknis, skill, dan strategi, tapi juga soal proses mental dan nilai-nilai yang kukuh dipegang. Beruntung, sebagian besar pemain Timnas Indonesia adalah orang Indonesia sendiri, sebab hanya orang-orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Tanah Air yang memiliki rasa cinta alamiah pada Tanah Airnya sendiri.

Kedua, Indonesia vs Eropa? Sebagaimana yang telah saya singgung diatas, kita nyaris tak melihat adanya pemain asli Filipina pada pertandingan semifinal malam ini. Layar kaca kita dihiasi dengan wajah-wajah Younghusband Bersaudara, De Jong, Del Rosario, dan kiper Filipina asal Inggris yang saya lupa namanya. Lalu, kita sedang melawan Filipina atau melawan orang Barat sih? Para pemain naturalisasi ini memang bukan berasal dari liga-liga premier di Eropa. Namun, bagaimanapun standar Eropa jelas lebih tinggi daripada Asia. Kita melihat bagaimana skill individu mereka begitu bagusnya. Dari segi kedisiplinan bermain pun pantas dipuji, terutama pada lini pertahanan Filipina yang sangat rapat. Meski demikian, permainan mereka tetap masih bisa diimbangi oleh para anak asuh Fred Riedl ini. Intinya, pemain naturalisasi meskipun memiliki basic skill yang bagus tetap saja tak jauh meninggalkan kemampuan pemain lokal Indonesia. Pendapat pribadi saya, untuk bisa bermain sebaik yang ditunjukkan para pemain naturalisasi Filipina, masih bisa kita capai dengan memperketat pembinaan atau cara lainnya. Kita selalu memiliki harapan untuk lebih baik daripada sekarang. Naturalisasi gila-gilaan hanya dilakukan oleh negara-negara yang sepakbolanya putus asa.

Yogyakarta, 16 Desember 2010

*Staff Bidang Keilmuan PC IMM BSKM dan mahasiswi Fak. Psikologi UGM, Yogyakarta.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here