Oxygen Concentrator: Solusi Cepat-Berkelanjutan untuk Tangani Kelangkaan Oksigen

0
63

Peningkatan kasus positif Covid-19 di Indonesia akhir-akhir ini menimbulkan dampak berupa kelangkaan oksigen untuk keperluan medis. Seperti yang kita tahu, pasien Covid-19 yang mengalami penurunan saturasi oksigen perlu bantuan oksigen bertekanan untuk bernapas. Oksigen tabung menjadi andalan fasilitas kesehatan maupun masyarakat yang menjalani isolasi mandiri untuk mengatasi penurunan saturasi oksigen pada pasien Covid-19.

            “Kan Allah sudah menyediakan berimpah oksigen di udara, jadi kenapa oksigen bisa langka?”

Pertanyaan terkait kelangkaan oksigen di atas banyak kita dengar dari masyarakat awam. Memang benar Allah telah melimpahkan oksigen di udara, namun kadar oksigen di udara hanya sekitar 21%, di mana sisanya adalah 78% gas nitrogen dan 1% gas argon. Sedangkan kebutuhan oksigen untuk penanganan pasien Covid-19 dengan gejala moderat adalah kadar oksigen sekitar 90% dengan debit 5-10 lpm. Oleh karena itu, perlu perlakuan khusus agar oksigen dapat mencapai kondisi tersebut.

Ada beberapa cara untuk mendapatkan spesifikasi oksigen yang dibutuhkan, antara lain:

  1. Distilasi Kriogenik, yaitu mencairkan udara kemudian memisahkan oksigen dengan nitrogennya dan unsur lainnya
  2. Elektrolisis Air, yaitu dengan memberikan tegangan listrik pada air sehingga terjadi elektrolisis dan oksigen akan keluar dari kutub anoda (+)
  3. Pressure Swing Adsorption (PSA), yaitu dengan menyaring oksegen yang berada di udara melalui tabung berisi zat penyaring sehingga nitrogen dalam udara akan tertahan dalam saringan dan oksigen dapat lolos dari saringan.

Distilasi kriogenik dan elektrolisis air hanya bisa dilakukan dalam skala industri dan dengan standar keamanan yang tinggi, sedangkan PSA dapat dilakukan bahkan dalam skala rumahan. Sistem PSA ini adalah dengan mengalirkan udara bertekanan ke dalam tabung yang berisi bahan penyaring (zeolite atau karbon aktif) untuk memisahkan gas oksigen dengan nitrogen. Hal ini dapat dilakukan karena molekul gas nitrogen memiliki ukuran molekul yang lebih besar dibandingkan dengan molekul gas oksigen.

Sistem PSA ini banyak diterapkan pada alat Oxygen Concentrator yang beredar di pasaran saat ini. Oxygen Concentrator membutuhkan dua buah tabung penyaring yang beroperasi secara bergantian untuk dapat menghasilkan oksigen secara terus menerus. Karena pada suatu periode tertentu tabung penyaring akan mengalami kejenuhan sehingga tekanan udara perlu diturunkan untuk membuang molekul gas nitrogen yang terperangkap di dalam saringan. Gambar di bawah ini akan membantu kita dalam memahami cara kerja Oxygen Concentrator.

Menurut saya, Oxygen Concentrator ini adalah salah satu solusi yang cepat dan berkelanjutan untuk menangani kelangkaan oksigen saat ini karena beberapa hal. Yang pertama adalah karena alat ini dapat bekerja dengan aman dalam skala rumahan sehingga fasilitas kesehatan tidak perlu penanganan khusus terhadap alat ini. Jika setiap fasilitas kesehatan memiliki alat ini, maka fasilitas kesehatan tidak perlu lagi terlalu bergantung pada pasokan oksigen medis dari industri, sehingga isu kelangkaan oksigen dapat dihindari.

Yang kedua adalah sistem kerja alat yang berkelanjutan. Oxygen Concentrator dapat terus digunakan tanpa harus melakukan isi ulang seperti halnya tabung oksigen sehingga jika kembali terjadi lonjakan kasus Covid-19 (semoga tidak terjadi lagi) alat ini dapat kembali digunakan dan tidak terjadi lagi kekurangan pasokan oksigen medis dari industri.

Yang ketiga adalah alat ini tidak perlu biaya investasi yang mahal dan dapat diproduksi secara cepat. Kalau kita cermati dari gambar sistem kerja Oxygen Concentrator di atas, maka komponen-komponen yang dibutuhkan untuk membangun alat ini tidaklah sulit. Komponen-komponen yang digunakan pada alat ini adalah komponen-komponen modular yang juga biasa digunakan oleh alat-alat lain sehingga ketersediaannya dapat terjamin. Selain itu, industri manufaktur dalam negeri, yang lesu sejak pandemi ini hadir, dapat digandeng untuk ikut berpartisipasi memproduksi komponen-komponen alat ini.

Pemanfaatan metode reverse engineering juga dapat diaplikasikan untuk memangkas waktu riset dan desain secara efektif. Metode ini lazim digunakan dalam dunia keteknikan dengan cara mengamati, meniru, dan memodifikasi alat yang sudah ada untuk membuat alat baru yang lebih mumpuni. Saya rasa reverse engineering adalah hal wajib yang harus dilakukan untuk memproduksi Oxygen Concentrator di masa pandemi ini.

Terakhir, saya harap pemerintah mampu menjadi katalisator penangan pandemi dengan memberikan kebijakan-kebijakan strategis yang tepat agar pandemi ini segera berakhir. Pemerintah jangan ragu menggandeng insinyur-insinyur berkualitas dari dalam negeri untuk membantu meringankan beban tenaga medis dari balik layar. Semoga pandemi ini segera berakhir agar tidak ada lagi ulama, ilmuan, dokter, dan ahli ilmu lain yang gugur dalam penanganan wabah, karena salah satu cara Allah dalam mencabut ilmu dari dunia adalah dengan mewafatkan para ahli ilmu.

Allahumma inni a’udzu bika minal barashi, wal jununi, wal judzami, wa sayyi’il asqami.

 

 

Daftar Pustaka:

https://m.mediaindonesia.com/infografis/detail_infografis/418795-tidak-mudah-ini-cara-produksi-oksigen

https://www.medicalogy.com/blog/oksigen-konsentrator-dan-tabung-oksigen/

https://www.amsonstech.com/oxygen-concentrator-modular.html

SHARE
Previous articleIdulfitri: Merayakan Berlalunya Bulan Penuh Berkah
Pimpinan cabang IMM Bulaksumur Karangmalang mewadahi kader IMM di UGM UNY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here