Pandemi Jembatan Karya

0
59

ditulis oleh Siti Khoirun Nasi’ah (Anggota Bidang SPM PK IMM Al-Khawarizmi UGM)

“Dalam menghadapi pandemi yang mendunia Apakah cukup hanya dengan cuci tangan lalu pakai masker? Seorang yang terdidik dan terpelajar harusnya bisa membangun perubahan dikala bangsanya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi hal ini mengancam keberlangsungan kaum marjinal. Yuk, bawa perubahan! Perubahan tidak ditunggu, tetapi dijemput. Tidak perlu banyak, asal ada makna. Tidak grusa-grusu, tetapi taktis dan strategis. Kesempurnaan hanyalah milik ALLAH ”

Munculnya Virus Corona (Covid-19) telah menjadikan semua konsep dan skema kehidupan masyarakat berubah secara global. Tidak membutuhkan waktu lama, dalam hitungan bulan begitu cepat berubah seluruh tatanan dunia. Hal inipun jika dilihat dengan kacamata yang lebih sempit, beberapa lapisan masyarakat masih mampu beradaptasi secara baik dengan adanya Covid-19, namun beberapa yang lain justru tenggelam oleh derasnya arus perubahan yang begitu cepat. Jalur ekonomi yang dibiarkan secara konvesional akan tergilas dengan kondisi pandemi sekarang. Bahkan tidak jarang ditemui para UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang harus terjun payung dan berdampak lesunya bisnis. Sebagian besar masyarakat yang sudah terbiasa dengan kegiatan berbasis big data bisa dipastikan melintasi tikungan tajam pandemi ini dengan smooth landing. Untuk itu, dunia daring adalah alternatif yang perlu dilakukan untuk menjaga eksistensi selama pandemi.

Aktivitas produktif  yang dialihkan ke daring memang  gampang-gampang susah. Terlebih tidak semua masyarakat terbiasa dengan platform digital, terutama bagi pemula. Hal-hal baru berbasis digital, memanglah harus ditelateni karena dibalik peristiwa akan ada hikmah yang berharga. Pandemi sekarang ini, memaksa setiap orang termasuk tenaga pengajar untuk menyajikan pembelajaran dengan kreatif. Pandemi juga memaksa aktivis dakwah maupun aktivis sosial untuk framing di media sosial dengan gamblang dan semenarik mungkin. Media sosial pada masa pandemi adalah alternatif jitu meningkatkan citra sebuah organisasi. Karena apalagi yang akan dipandang dari pagi hingga malam oleh manusia-manusia dengan aktivitas nyata yang terkonversi menjadi maya selain layar gawai. Paling tidak, pandemic menjadikan intensitas membuka platform digital semakin tinggi setiap harinya.

Banyak hal yang bisa dilakukan selama pandemi. Meskipun kesibukan hanya beda dimensi dan terkonversi dari nyata menjadi maya. Mencoba untuk mengaktifkan kembali hobi-hobi yang lama terpendam karena aktivitas fisik yang tiada henti hingga tidak ada space untuk diri sendiri.  Mungkin sebelumnya, masih banyak hal-hal yang ingin dilakukan namun tidak kesampaian. Untuk itu, pandemi adalah saat yang tepat untuk tetap memadatkan jadwal dengan hal-hal bermanfaat dan berharga lainnya. Karena tidak ada lagi yang memaksa datang rapat, tidak ada lagi presensi kehadiran kuliah dengan finger print, dan apapun yang membuat mandipun tak sempat. Pandemi sekarang ini, membatasi ruang bertemu apalagi berkumpul menjadikan mobilitas mulai berkurang bahkan tidak ada. Semua beralih ke daring baik rapat organisasi, kuliah, bimbingan, social project, dan lain sebagainya tetap bisa dilakukan baik dengan selonjoran, berbaring, tiduran dan semau kita. Dengan non-aktifkan camera perwajahan dunia maya akan terhenti pada foto profil saja. Asal foto proofil good looking dan sopan, kuliah sambil goleran tak akan menjadi masalah. Namun, tidak mungkin hal ini ditemui pada kader Muhammadiyah.

Pandemi mampu merubah banyak aspek, namun cobalah memandang realitas pandemi ini dengan mengurangi adanya shock culture dan mulai untuk mengubah pola hidup agar dapat bertahan. Beradaptasi bagaimana untuk tetap bisa berinteraksi namun ada batasan kontak fisik. Sudah menjadi tren bahwa manusia yang terinfeksi tidak menimbulkan gejala secara fisik. Kewaspadaan dan kepedulian terhadap diri dan lingkungan mulai diutamakan salah satunya melalui reframing dan berusaha melahirkan pikiran positif untuk beradaptasi di situasi pandemi baik terhadap isu yang beredar maupun aturan-aturan baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Pandemi ada tanpa permisi maupun sosialisasi dan mau tak mau harus menerima dengan lapang dada. Menunggu pandemi pamitan mungkin bisa disambi dengan melahirkan banyak karya. Kalaupun tidak berupa karya nyata dan signifikan, pastinya waktu terisi dengan hal-hal yang berharga. Setidaknya, disisa hidup sekarang ini tidak hanya sebatas menunggu corona berlalu namun justru sebaliknya. Menunggu corona berlalu hanyalah sampingan, tugas utamanya adalah tetap produktif dan melahirkan karya disetiap waktu yang Allah SWT berikan.

Sebagai cendekiawan yang terbiasa dengan edukasi dan pendidikan sudah seyogyanya menerima perubahan serta menumbuhkan kesadaran akan pola hidup sehat. Seluruh anggota keluarga harus dipastikan aman dan tentunya patuh terhadap protokol kesehatan. Dan dengan segala aktivitas yang sedikit banyak bersinggungan dengan orang banyak, penuhi perlengkapan pribadi dalam rangka menjaga keselamatan diri dan oranglain tentunya tidak lepas dengan menerapkan seluruh protokol kesehatan dan menambah wawasan edukasi kesehatan sehubungan dengan covid-19 untuk sendiri maupun orang lain.

 

SHARE
Previous articleHidup Harus Berlaku
Pimpinan cabang IMM Bulaksumur Karangmalang mewadahi kader IMM di UGM UNY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here