Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Hadist di atas menunjukan bahwa Rasullullah menganjurkan umat islam selalu berbuat baik terhadap orang lain dan mahluk yang lain. Hal ini menjadi indikator bagaimana menjadi mukmin yang sebenarnya. Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh kemanfataannya pada orang lain.

Setiap perbuatan maka akan kembali kepada orang yang berbuat. Seperti kita memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri dan juga sebaliknya. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)

Tentu saja manfaat dalam hadits ini sangat luas. Manfaat yang dimaksud bukan sekedar manfaat materi, namun bisa dalam bentuk mengabdikan diri pada masyarakat umum hingga memberikan manfaat nyata seperti yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad ﷺ .

Pengabdian pada masyarakat merupakan suatu hal yang seharusnya menjadi tujuan muslim dunia terutama tentunya Indonesia. IMM hadir dengan membawa Trilogi IMM yaitu Keagamaan, Kemahasiswaan dan Kemasyarakatan yang mana dapat dimaknai bahwa IMM sebagai mengedepankan kemasyarakatan sesuai dengan Trilogi IMM yaitu mengabdi kepada masyarakat. Hadirnya IMM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah diharapkan besar memberikan sumbangsih baik berupa ilmu maupun tenaga secara langsung kedalam masyarakat, oleh karenanya menjadi penting ketika IMM membahas tentang pemberdayaan masyarakat, yang seharusnya menjadi fokus pula dalam gerakan IMM kedepannya.

Pemberdayaan masyarakat adalah konsep pembanguan ekonomi yang merangkum nilai-nilai masyarakat untuk membangun paradigma baru dalam pembangunan yang bersifat people-centered, participatory, empowerment and sustainable (Chamber, 1995). Lebih jauh Chamber menjelaskan bahwa konsep pembangunan dengan model pemberdayaan masyarakat tidak hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic need) masyarakat tetapi lebih sebagai upaya mencari alternative pertumbuhan ekonomi lokal.

Pemberdayaan masyarakat (empowerment) sebagai strategi alternative dalam pembangunan telah berkembang dalam berbagai literatur dan pemikiran walaupun dalam kenyataannya belum secara maksimal dalam implementasinya. Pembangunan dan pemberdayaan masyarakat merupakan hal banyak dibicarakan masyarakat karena terkait dengan kemajuan dan perubahan bangsa ini kedepan apalagi apabila dikaitkan dengan skill masyarakat yang masih kurang akan sangat menghambat pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Hasil kajian berbagai proyek yang dilakukan International Fund for Agriculture Development (IPAD) menunjukkan bahwa dukungan dari produksi yang dihasilkan masyarakat lapisan bawah memberikan sumbangan pada pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan dengan investasi yang sama pada sektor-sektor yang skalanya lebih besar. Pertumbuhan itu dihasilkan bukan hanya dengan beaya yang lebih kecil tetapi juga dengan devisa yang kecil (Brown, 1995), artinya sangat besar pengaruhnya bagi Negara-negara berkembang yang mengalami kelangkaan devisa dan lemah dalam posisi neraca pembayarannya.

Dalam kerangka ini upaya untuk memberdayakan masyarakat (empowering) dapat dikaji dari 3 (tiga) aspek :

Pertama, ENABLING yaitu menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat dapat berkembang. Asumsinya adalah pemahaman bahwa setiap orang, setiap masyarakat mempunyai potensi yang dapat dikembangkan artinya tidak ada orang atau masyarakat tanpa daya. Pemberdayaan adalah upaya untuk membanguna daya dengan mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki masyarakat serta upaya untuk mengembangkannya.

Kedua, EMPOWERING yaitu memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat melalui langkah-langkah nyata yang menyangkut penyediaan berbagai input dan pembukaan dalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat semakin berdaya. Upaya yang paling pokok dalam empowerment ini adalah meningkatkan taraf pendidikan dan derajat kesehatan serta akses ke dalam sumber-sumber kemajuan ekonomi (modal, teknologi, informasi, lapangan keja, pasar) termasuk pembangunan sarana dan prasarana dasar seperti (irigasi, jalan, listrik, sekolah, layanan kesehatan) yang dapat dijangkau lapisan masyarakat paling bawah yang keberdayannya sangat kurang. Oleh karena itu diperlukan program khusus, karena program-program umum yang berlaku untuk semua tidak selalu menyentuh kepentingan lapisan masyarakat seperti ini.

Ketiga, PROTECTING yaitu melindungi dan membela kepentingan masyarakat lemah. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan masyarakatnya merupakan unsur penting, sehingga pemberdayaan masyarakat sangat erat hubungannya dengan pementapan, pembudayaan dan pengalaman demokrasi (Friedmann, 1994).

Pendekatan pemberdayaan pada intinya memberikan tekanan pada otonomi pengambilan keputusan dari kelompok masyarakat yang berlandaskan pada sumberdaya pribadi, langsung, demokratis dan pembelajaran social.

Dalam pemberdayaan masyarakat (empowerment) sebagai model pembangunan yang berbasis rakyat, menggerakan partisipasi masyarakat bukan hanya essensial untuk mendukung kegiatan pembangunan yang digerakkan pemerintah, tetapi juga agar masyarakat berperan lebih besar dalam kegiatan yang dilaukannya sendiri. Dengan demikian menjadi tugas penting managemen pembangunan untuk membimbing, mengarahkan dan menciptakan iklim yang mendukung kegiatan pembangunan yang dilakuan oleh masyarakat. Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat bawah (grass root) yang dengan segala keterbatasannya belum mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, sehingga pemberdayaan masyarakat tidak hanya penguatan individu tetapi juga pranata-pranata sosial yang ada.

Menanamkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, keterbukaan, tanggung jawab adalah bagian penting dalam upaya pemberdayaan. Tiga upaya pokok dalam pemberdayaan masyarakat yaitu :

1) menciptakan suasana yang memungkinkan potensi mayarakat berkembang (enabling),

2). Memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat (empowering)

3) melindungi dan membela kepentingan masyarakat bawah (protecting) nampaknya menjadi 3 (tiga) pilar utama pemberdayaan masyarakat (empowerment) sebagai model pembangunan.

DAFTAR PUSTAKA

Bryant Coralie, White G Louise, Managemen Pembangunan untuk Negara-negara Berkembang, LP3ES, 1987

Kian Wie, Thee, Pembangunan Ekonomi dan Pemeratan, LP3ES, 1983

Korten.D.C & Sjahrir, Pembangunan Berdimensi Kerakyatan, Yayasan Obor Indonesia, 1988

Suharto, Edy, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, Aditama, 2010

 

Pangestu Ajian Ndaru , Merupakan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan UNY, dan Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM Ahmad Badawi UNY 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here