Pengoptimalisasian Fungsi Masjid Untuk Kemaslahatan Umat

0
161

Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam membuat banyak masjid yang dibangun di pemukiman masyarakat, bahkan dalam satu desa terdapat beberapa masjid didalamnya. Banyak orang yang beranggapan bahwa masjid hanya digunakan untuk beribadah sholat. Publik mengatakan bahwa masjid ialah rumah Allah SWT yang difungsikan untuk beribadah Sholat (Fathoni, 2019). Urusan ibadah yang hanya berhubungan dengan Tuhan atau bersifat vertikal semata. Hal ini menjadikan masjid dibangun dengan bersih dan mewah untuk memberikan kenyamanan dan ketertarikan terhadap masyarakat. Islam merupakan agama yang menyeluruh dengan tidak hanya mengatur hubungan dengan tuhan tetapi seluruh kehidupan alam semesta. Beribadah dalam Islam bukan hanya berdzikir, berdoa dan sholat. Akan tetapi Islam juga mengajarkan untuk zakat, infaq, shodaqoh yang memiliki makna memberikan kemaslahatan bagi seluruh alam semesta. Masjid seharusnya tidak hanya digunakan untuk beribadah sholat saja, tetapi dapat digunakan untuk beramal shaleh yang memberikan kebermanfaatan bagi kepentingan orang banyak. Pada zaman Nabi Muhammad SAW ketika memerintah negara Madinah, masjid Nabawi digunakan sebagai kantor pusat pemerintahan untuk menyelesaikan problem sosial-politik. Masjid pada zaman Rasulullah juga berfungsi sebagai baitul mal, tempat penyembuhan korban perang dan rumah sakit, serta sebagai tempat untuk menuntut ilmu (Nashrullah, 2018).
Masjid yang dapat berdiri megah berasal dari donasi dan infaq yang terkumpul sebagai anggaran masjid. Panitia Masjid Taman Sliwedari Solo mulai mengumpulkan donasi dari berbagai pihak yang membantu pembangunan masjid, agar pendirian tempat ini bisa sesuai jadwal (Mukti, 2018). Masjid yang megah dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan terhadap jama’ah yang hendak melakukan ibadah. Selain memberikan kenyamanan, masjid yang dibangun dengan mewah dimaksudkan sebagai tempat wisata religi serta menjadi ikon kebanggaan suatu daerah. Masjid Agung Al-Barkah sebagai masjid tertua sekaligus termegah telah menjadi ikon Kota Bekasi yang letaknya berhadapan dengan Alun-alun Kota Bekasi (Bactiar, 2018). Berbagai faktor alasan ini yang menjadikan orientasi masyarakat yang selalu menggunakan anggaran untuk aspek pembangunan. Masyarakat jadi berlomba-lomba untuk membangun masjid agar terlihat megah.
Fungsi utama masjid memang diperuntukan untuk beribadah yang bersifat hubungan dengan Tuhan, seperti sholat, dzikir, dan berdo’a. Namun membicarakan agama Islam peribadatan tidak hanya sholat dan puasa saja, akan tetapi mencangkup semua kaidah-kaidah, hudud-hudud (batas-batas), dalam muamalah (pergaulan) dalam masyarakat (Natsir, 2014). Islam adalah agama yang menyeluruh, tidak hanya mengatur hubungan makhluk dengan penciptannya, tetapi juga hubungan sesama makhluk hidup. Oleh karena itu, Islam disebut sebagai agama rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan Lil Alamin). Kitab Al Qur’an dalam surat Al Ma’un ayat 1-3 yang artinya “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ?, Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak memberi makan orang miskin.” Makna dalam surat Al Ma’un ayat 1-3 itu jelas bahwa agama (Islam) tidak hanya memerintahkan untuk berhubungan baik kepada tuhan saja, tetapi berhubungan baik terhadap sesama manusia, termasuk menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin. Berbagi rezeki dengan tidak menimbun kekayaan secara berlebih merupakan ajaran Islam yang semestinya harus dipatuhi
dan dikerjakan oleh umat Islam.

Zaman terus berkembang dengan kehidupan semakin komplek sehingga permasalahan di dunia ini semakin rumit. Masyarakat miskin yang hidup dalam zaman sekarang ini tidak hanya miskin ekonomi, tetapi juga miskin kesehatan, miskin pengetahuan maupun miskin politik. Untuk menyelesaikan masalah semua ini dalam penafsiran surat Al Ma’un, umat islam dapat melakukan berbagai kegiatan penyelesaian masalah kemiskinan sesuai dengan kebutuhan zaman (Mustofa, 2018).Penafsiran surat Al Ma’un tersebut perlu adanya ruh ayat (semangat ayat) yaitu pengamalan nyata dalam praktik kehidupan (Mustofa, 2018). Umat Islam harus mengamati fenomena perkembangan masyarakat yang bersifat dinamis agar mampu menyelesaikan berbagai bentuk kemiskinan dengan program yang sesuai. Masjid merupakan tempat yang dapat digunakan untuk mengentaskan kemiskinan di masyarakat. Pada masa Rasulullah SAW selain untuk sholat, masjid juga digunakan untuk tempat tinggal bagi sahabat nabi yang belum memiliki tempat tinggal. Masjid Nabawi berfungsi sebagai tempat tinggal bagi kalangan muhajirin yang tidak mendapatkan tempat tinggal atau sanak saudara di Madinah (Haidir, 2014).

Selain kajian agama, orang dapat menggunakan masjid untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, seperti pusat tempat penyaluran zakat dan syodaqoh, kegiatan santunan anak yatim dan masyarakat miskin, bahkan pembuatan mini market maupun hotel. Masjid Jogokariyan tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat ibadah dan dakwah, tetapi juga sebagai penggerak perekonomian yang diwujudkan dengan adanya hotel yang terdiri dari 11 kamar yang disewakan, satu aula dan ruangan untuk musafir (Riani, 2019). Pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis masjid dapat digunakan sebagai kontribusi dalam menyelesaikan permasalahan pengangguran, kesenjangan sosial dan kemiskinan ekonomi di Indonesia.
Masalah pendidikan tidak dapat dilepaskan dari penyebab kemiskinan yang lain. Masyarakat miskin dari aspek pendidikan di Indonesia adalah mereka yang berpendidikan rendah (Purwanto, 2007). Untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak hanya dapat diselesaikan melalui pendidikan formal. Pendidikan non-formal seperti komunitas diskusi, kelompok belajar dapat sebagai penunjang pembelajaran untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Dalam Subianto (2017) berdasarkan survey Programme for Internasional Student Assessment tahun 2015 bahwa Kemampuan membaca, matematika, dan sains anak Indonesia ranking 65 dari 73 negara. Masyarakat dapat memaksimalkan fungsi masjid sebagai pusat pendidikan non-formal kepada masyarakat. Pendidikan moral dalam agama penting agar terwujudnya perdamaian dan ketertiban masyarakat. Banyak masjid yang menyelengarakan program pendidikan agama, seperti Kajian agama, dan Tablig akbar. Akan tetapi, sedikit masjid yang menyelenggarakan program pendidikan yang bersifat keilmuan dunia. Sebenarnya masyarakat dapat mengfungsikan masjid untuk mengkaji seluruh ilmu pengetahuan, tanpa harus memisahkan pengajaran keilmuan yang berkembang dalam masyarakat. Masjid dapat dibangun ruang perpustakan dan digunakan sebagai tempat membaca, berdiskusi, dan membuat berbagai program pengajaran keilmuan. Pada zaman Nabi Muhammad SAW masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat. Masjid pada zaman Rasulullah berfungsi sebagai sekolah, kampus, bahka rumah keterampilan untuk tukang besi, tukang kayu, tukang jahit dan kursus bahasa (Nashrullah, 2018).
Masyarakat juga dapat menggunakan masjid sebagai tempat pusat kesehatan masyarakat. Harapan hidup masyarakat bergantung pada fasilitas kesehatan yang tersedia. Salah satu komponen dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah kesehatan dengan indikatornya angka harapan hidup (Sari dkk, 2016). Umat islam dapat membuat program
kesehatan didalam masjid sebagai sarana amar ma’ruf (menyeru kepada kebaikan). Berbekam dan rukiyah yang menjadi sunnah bagi umat islam, bahkan klinik kesehatan dapat menjadi gerakan masjid yang memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat. Program kesehatan berbasis masjid selain memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat, dapat menjadi sarana untuk memakmurkan dan menarik minat masyarakat untuk beribadah di masjid. Program kesehatan berbasis masjid ini sudah banyak diterapkan salah satunya Masjid Jogokaryan yang terletak di Manjriteron, Yogyakarta. Klinik kesehatan Masjid Jogokariyan membuka praktek setiap senin, Selasa, Rabu malam setelah Magrib sampai Isya, Jumat setelah salah jumat, dan Ahad pagi (Permana, 2015). Program ini dapat menjadi alternatif pilihan masyarakat dalam berobat, menimbang pemerintah juga belum sepenuhnya mampu memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan. Pemerintah didorong membenahi pelayanan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) atau kesehatan yang belum memadai (Tamba, 2018).
Memberikan kenyamanan dalam beribadah bukan berarti membangun masjid dengan megah. Kenyamanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan jama’ah tanpa melakukan pemborosan anggaran untuk pembangunan. Bangunan masjid tidak seharusnya hanya untuk beribadah saja, tetapi dapat membuat berbagai aktivitas yang memberikan kemaslahatan kepada masyarakat. Jumlah Masjid di Indonesia sampai sekarang belum diketahui jumlah pastinya, namun masjid yang terdata dalam Dewan Masjid Indonesia terdapat 800 ribu masjid (Ayu, 2018). Jika seluruh masjid di Indonesia membuat berbagai program kemaslahatan umat, seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat, program kajian, pendidikan dan kesehatan. Akan tetapi, tetap tidak mengesampingkan fungsi masjid sebagai tempat beribadah kepada Allah swt. Kontribusi ini membuat permasalahan yang semakin rumit pada zaman sekarang dapat diperkecil. Kesenjangan sosial akan tidak begitu tinggi, masyarakat memperoleh kemakmuran dan kesejahteraan. Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, di mana kesejahteran, kebahagiaan, dan kebaikan merata luas (Nashir, 2014).
Amirudien Al Hibbi, Kabid Hikmah PK IMM AR Sutan Mansur UNY 2019-2020, Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik UNY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here