Ramadan Adalah Anak Tangga, Bukan Polisi Tidur!

0
25

Ramadan selalu disambut dengan spesial oleh ummat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Munculnya iklan marjan di televisi, menjadi pertanda kepada masyarakat Indonesia bahwa Ramadan telah tiba. Masyarakat pun berbondong-bondong mempersiapkan diri untuk menghadapi bulan Ramadan, mulai dari persiapan iman, fisik, mental, hingga finansial.

Pada umumnya, orang-orang akan bersemangat untuk beribadah di awal bulan Ramadan. Kualitas dan kuantitas ibadah akan meningkat drastis sehingga grafik keimanan, turut meningkat. Namun, ketika sudah mencapai titik jenuh masing-masing, maka grafik tersebut akan mengalami penurunan hingga mencapai level yang sama dengan sebelum Ramadan.

Model orang seperti ini akan menghasilkan sebuah grafik yang berbentuk seperti polisi tidur! (saya dapat mengganti diksinya menjadi speed bump kalau bapak ibu polisi pengayom masyarakat tidak berkenan). Kalau dilihat dari sifat fisisnya di lapangan, polisi tidur ini berfungsi untuk memaksa pengemudi menurunkan kecepatannya ketika melewati polisi tidur. Jika pengemudi tidak melakukan itu maka akan terjadi ketidaknyamanan dalam berkendara, bahkan bisa menyebabkan kerusakan pada kendaraan.

Kalau hal ini dianalogikan dalam aktivitas sehari-hari, maka orang-orang akan terpaksa menurunkan intensitas aktivitas fisiknya selama bulan Ramadan karena menganggap bulan Ramadan ini sebagai pengganggu aktivitas mereka. Mereka beranggapan bahwa bulan Ramadan ini akan menimbulkan ketidaknyamanan. Orang-orang seperti ini memandang Ramadan sebagai polisi tidur.  

Anggapan ini tidak sepenuhnya salah sebab beraktivitas selama bulan Ramadan.  memang memerlukan persiapan dan penyesuaian..Akan tetapi, jangan sampai kita beranggapan bahwa bulan Ramadan adalah penghambat bagi aktivitas sehari-hari. Justru, mari kita pandang Ramadan ini sebagai sebuah anak tangga yang mengantarkan kita kepada kemuliaan batin dan peningkatan kualitas diri.

Ketika kita memandang Ramadan sebagai sebuah anak tangga, maka sebisa mungkin kita akan menjadikan Ramadan ini sebagai ajang meningkatkan kualitas diri. Peningkatan kualitas diri yang saya maksud tidak terbatas pada keimanan, ibadah, dan hal-hal lain yang menyangkut ritual keagamaan, namun juga pada kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk terjun ke dalam masyarakat. Outputnya adalah menjadi pribadi yang lebih baik setelah bulan Ramadan usai.

Di sisi lain, ketika kita memandang Ramadan sebagai anak tangga, maka insyaallah secara otomatis grafik keimanan kita juga akan seperti anak tangga. Setiap bulan Ramadan selalu menunjukkan peningkatan dan akan tetap stabil  hingga 11 bulan selanjutnya. Meski keimanan itu juga bisa mengalami naik  dan turun, namun jangan sampai grafik keimanan tersebut turun ke level yang sama saat sebelum Ramadan, apalagi sampai turun ke level yang lebih rendah dari itu.

Kalau kita analogikan ke tangga yang sesungguhnya, maka sebelum menaiki tangga kita akan mempersiapkan diri, baik persiapan kekuatan kaki dan lutut, persiapan keseimbangan dengan berpegangan, bahkan persiapan mental agar kita tidak goyah ketika sudah sampai atas karena takut ketinggian. Begitu pula dalam menaiki anak tangga Ramadan, kita perlu persiapan fisik yang mumpuni, keseimbangan dalam menjalani ibadah dan istirahat, bahkan persiapan mental yang kokoh agar tetap tegar dan tidak goyah ketika sudah menaiki anak tangga ini.

Selain itu, selama menaiki anak tangga juga diperlukan kehati-hatian, . Tidak perlu tergesa-gesa. Jika hal ini diabaikan, maka bukan tidak mungkin kita akan jatuh dan menimbulkan luka pada tubuh dan trauma dalam menaiki anak tangga. Begitu pula pada anak tangga Ramadan, kita perlu hati-hati dan tidak perlu tergesa, sesuaikan dengan kemampuan kita, jangan sampai kita melampaui batas dan malah terjatuh dan tak bisa bangkit lagi (yang nyanyi silahkan ngaku di kolom komentar, hehehe).

Untuk itu, mulai dari sekarang jangan memandang Ramadan sebagai sebuah polisi tidur yang menghambat.Namun, jadikan Ramadan sebagai anak tangga yang mengantarkan kita kepada kemuliaan batin dan peningkatan kualitas diri.Semoga kita istiqomah dalam menaiki anak tangga Ramadan setiap tahunnya.

***

Yogyakarta, 20 April 2021

Oleh Zidan Yusron Wijanarko

Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PC IMM BSKM Periode 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here