Sang Pencerah: Rasionalisasi, Modernisasi, dan Humanisasi Islam

2
127

Oleh: Inamul Haqqi Hasan

Foto: www.21cineplex.com
Sang Pencerah adalah film biopik karya Hanung Bramantyo, sejarah-biografi dari seorang pahlawan nasional yang sekaligus pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Setting waktu cerita dimulai dari ketika Muhammad Darwisy (nama asli Dahlan) lahir pada 1800-an hingga ketika beliau mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Muhammadiyah (1912). Drama tiga babak dalam film ini mengangkat konflik Dahlan (diperankan oleh Lukman Sardi) dengan lingkungannya di Kauman Yogyakarta, utamanya dengan Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo). Konflik tersebut muncul karena Dahlan menyuarakan model keberislaman yang berbeda dari yang telah dianut oleh masyarakat secara turun temurun di bawah otoritas sang penghulu. Film ini sangat khas karya Hanung, di banyak shot dan adegan mengingatkan kita pada karya-karya Hanung sebelumnya, khususnya Ayat-Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban.

Tiga Pemberontakan Sang Pencerah

Dahlan sepulangnya dari Saudi Arabia diceritakan pemikirannya banyak terpengaruh oleh Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh, di mana tokoh-tokoh pembaruan Islam tersebut karyanya terlarang di lingkungan Kauman hanya karena diterbitkan di Paris. Keeksklusifan pemikiran Islam yang resisten pada apa-apa yang berasal dari non-Islam membuat kaum Muslim mengalami kemandegan. Hal itulah yang dalam film ini menjadi topik utama, bersamaan dengan keberanian Dahlan untuk melawan arus konservatisme itu. Dahlan berupaya mengajarkan Islam yang rasional (dengan dasar wahyu dan akal, antitesis dari Islam mistis), modern dan inklusif (mau menerima produk-produk non-Muslim untuk pendalaman ajaran Islam), dan pro kemanusiaan melalui tafsir praksis surat Al Maun.

Ketiga unsur pembaruan di atas sebenarnya termuat sepanjang film, tetapi penekanannya menurut hemat saya terbagi mejadi tiga fase. Dimulai dari opening film berupa teks narasi yang menceritakan bahwa corak keberislaman masyarakat pada waktu itu terpengaruh ajaran Syekh Siti Jenar yang bernuansa mistis dan dilanjutkan cerita ketika Darwisy muda (Ihsan Taroreh -Idol-), ia mulai mempertanyakan mengapa praktek Islam tidak rasional, menyulitkan, dan justru menjauhkan umat dari realitas. Dalam fase ini penekanannya adalah pada sisi rasionalitas, substansinya adalah bahwa Islam haruslah rasional dengan berdasar pada wahyu dan akal.

Kemudian sepulangnya dari Saudi Arabia memasuki fase modernisasi. Dahlan menggugat arah kiblat Masjid Besar Kraton yang lurus ke barat. Sebagai argumennya, Dahlan menggunakan peta dan kompas yang saat itu dianggap sebagai produk kafir sehingga tidak dapat diterima oleh sang penghulu. Nampaknya topik inilah yang menjadi topik utama dari film. Hal itu terlihat dari klimaks babak konflik film ini yaitu dirobohkannya Langgar Kidul Kiai Dahlan oleh warga dibawah perintah sang penghulu karena langgar tersebut arah kiblatnya tidak sama dengan Masjid Besar. Sementara itu, pendirian Madrasah Ibtida’iyah Diniyah yang menggunakan meja kursi meniru sekolah Belanda juga menjadi sequence yang menggambarkan modernisasi. Pesan utama dari fase ini adalah bahwa Islam jangan resisten pada modernisasi, artinya Islam harus terbuka pada kemajuan zaman dan produk-produknya, termasuk yang dikembangkan oleh non-Muslim.

Di samping itu sequence pendirian Madrasah ini telah masuk ke fase humanisasi karena Dahlan mendirikan Madrasah itu untuk anak-anak miskin. Fase terakhir adalah fase Islam humanis. Seperti yang telah melekat pada ajaran Ahmad Dahlan, pengamalan surat Al Maun menjadi kekuatan utama pada fase ini. Memberi makan orang miskin dan anak yatim serta pendidikan untuk mereka yang tak mampu mengakses pendidikan, itulah tafsir praksis Al Maun yang dilakukan Dahlan. Intinya, film ini ingin mengajak agar agama Islam jangan dimaknai sebagai spiritualitas semata, tetapi juga ada sisi humanitas yang tak kalah penting.

Demikianlah ketiga unsur pemberontakan Ahmad Dahlan yang menjadi pesan utama dari Sang Pencerah, dengan pesan paling dominan adalah modernisasi. Pemberontakan terhadap otoritas, yang dalam film ini disebut sebagai keyakinan yang telah bercampur dengan kekuasaan. Selain pesan yang dikemas secara naratif, dalam film ini banyak pula pesan-pesan verbal yang berkaitan dengan spirit pembaruan Ahmad Dahlan. Selain ketiga unsur di atas, sebenarnya terdapat juga penggambaran Dahlan sebagai seorang yang menghargai pluralitas (jika tak mau menggunakan istilah pluralisme), yaitu saat Dahlan mau bekerja sama dengan Belanda yang notabene non-Muslim asalkan ada kesamaan misi, tetapi pesan itu kurang terekspos karena porsi kuantitasnya kecil.

Kritik : Kaburnya Dakwah Kultural

Kuntowijoyo menyebutkan bahwa Kiai Dahlan pada masanya menghadapi tiga mindset masyarakat, yaitu modernisme, tradisionalisme (tradisi klasik Islam, bukan tradisi lokal), dan Jawaisme. Menurut Kunto, untuk menghadapi ketiga hal itu Dahlan menggunakan tiga cara yang berbeda pula, yaitu dengan mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu agama dalam pendidikan untuk menghadapi kalangan modernis yang waktu itu cenderung sekuler, sedangkan untuk menyikapi para tradisionalis adalah dengan tabligh bernuansa pencerahan, dan metode positive action (penekanan pada amar makruf) digunakan untuk menghadapi Jawaisme. Itulah sejatinya dakwah kultural, dakwah yang tidak menggebyah uyah (menyamaratakan) objek dakwah.

Nah, dalam film ini sebenarnya telah ada unsur kultural dalam dakwah Ahmad Dahlan. Cerita saat Dahlan menjadi tempat konsultasi beberapa orang yang mengeluh tak mampu mengadakan slametan, yasinan, atau tahlilan, Dahlan dalam film ini tidak terburu-buru menghakimi dengan mengatakan bahwa hal-hal itu tidak boleh apalagi menggunakan istilah bid’ah, tetapi Dahlan hanya mengatakan bahwa tidak ada tuntunan yang mewajibkan ritual-ritual itu. Akan tetapi, porsi kualitatifnya kalah dominan dari konfrontasi-konfrontasi yang muncul. Akibatnya, hampir tidak ada kesan dakwah kultural yang tertangkap setelah menonton film ini. Satu-satunya yang cukup kuat adalah saat Dahlan menggunakan biola ketika mengajar murid-muridnya.

Dalam film ini penggunaan biola itu dilanjutkan dengan perumpamaan oleh Dahlan bahwa agama itu seperti musik, jika dipelajari secara sungguh-sungguh akan memberikan kedamaian, keindahan, serta ketentraman. Dari sini saya menangkap ada unsur penggunaan hati atau intuisi untuk memahami ajaran agama (epistemologi ‘irfany). Akan tetapi, setelah itu dari konfrontasi-konfrontasi yang dimunculkan justru ambivalen, Dahlan diceritakan seolah-olah hanya mau menggunakan teks dan akal untuk memahami agama (epistemologi bayani dan burhani), bahkan seperti menolak penggunaan hati/intuisi. Meskipun dalam film ini tak pernah ada penyebutan hal itu secara eksplisit. Hal itu semakin diperkuat dengan salah satu penekanan dalam film ini, yaitu rasionalisasi pemikiran Islam.

Penutup

Membuat film dengan setting waktu masa lalu jelas bukan pekerjaan mudah, terlebih untuk urusan artistik. Namun, film ini bagi saya dapat dikatakan berhasil menghadirkan nuansa tahun 1800-an. Memang tidak terlalu mengherankan, mengingat dana untuk tata artistik film ini sangat besar. Menyulap Kebun Raya Bogor menjadi Malioboro lengkap dengan tugunya, museum kereta Ambarawa menjadi Stasiun Tugu, hingga penggunaan green screen raksasa bak menjadi mesin waktu untuk melihat masa lalu. Ditambah kostum serta make up yang digarap secara serius untuk mendekati cara berpakaian dan wajah pada masa itu.

Secara keseluruhan, film ini bagi saya jika disandingkan dengan film-film Indonesia lainnya, layak dimasukkan dalam kategori sangat baik. Unsur naratif dan unsur sinematik keduanya digarap secara serius dan cerdas sehingga mampu menjadi suatu kesatuan film yang apik. Sang Pencerah adalah sebuah film dengan setting masa lalu tetapi membawa pesan-pesan yang relevan hingga masa sekarang, ketika fenomena eksklusifikasi Islam kembali mencuat, ketika tuduhan murtad atau kafir pada sesama Muslim dengan mudahnya meluncur, dan ketika agama mulai dijauhkan dari realitas umat. Singkatnya, ingin saya katakan bahwa film ini adalah hasil dari “sineas cerdas yang memfilmkan orang cerdas”.

Penulis, Mantan Kabid Keilmuan IMM UGM

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here