SEBUAH SURAT UNTUK SEBUAH KELUARGA

0
1161

Yogyakarta, 10 Maret 2015

Kepada sebuah keluarga

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Di tanah yang semoga selalu Allah berkahi

Assalamu’alaikum wr.wb.

Saat aku menuliskan catatan ini, waktu sedang tiba di malam hari dan hujan sedang deras membasahi bumi. Keadaan dingin ini membuat orang enggan beraktivitas; namun aku berbeda. Aku harus tetap bergerak, apalagi untuk menuliskan catatan kepada salah satu kepingan cintaku. Catatan yang (mungkin) penting.

Bagaimana kabarmu, IMM? Hampir setiap hari aku bersama denganmu, namun aku selalu lupa menanyakan kabar. Maafkan aku. Kau (IMM) dan aku sama-sama sibuk, sehingga akhirnya kita jarang untuk saling bersapa dan memahami keadaan diri kita. Aku harap kabar IMM selalu baik dan tetap semangat untuk memperjuangkan visinya.

Maaf jika tiba-tiba aku berbicara dengan gaya formal. Namun kurasa, jika tak kuungkapkan, hal ini akan selalu menjadi ganjalan.

IMM,

Pernahkah kau bertanya mengapa aku masuk dan bersama dalam ikatanmu? Pernahkah kau penasaran dengan motivasiku untuk berjuang denganmu? Jika kau menebak, jangan mengira bahwa aku masuk di IMM karena aku mencari popularitas, sekedar mencari relasi atau hanya sekedar menghilangkan status ‘kupu-kupu’ (kuliah pulang-kuliah pulang).

Dua alasan logis yang bisa kusampaikan; bahwa IMM adalah dua elemen bagiku, yaitu keluarga dan perjuangan. Keluarga yang (selalu) mengobatiku saat terluka dan menemani saat tertawa bersama, dan perjuanganku dalam mensukseskan dakwah Muhammadiyah di hidup dan lingkunganku, terutama kampus. Kedua alasan yang selalu kutekankan dan kujalani… dan akhirnya kau tahu, IMM?

Alasan itu berkembang, tak berhenti disana saja. Hingga sampai pada titik saat aku sulit untuk menemukan kata untuk menguraikannya. Mungkin…ini cinta.

Ya, cinta. Suatu hal yang datang tanpa pernah butuh kepastian uraian. Cinta adalah hal yang luhur yang dimiliki setiap orang. Aku kehilangan kata saat harus kujelaskan mengapa aku sangat menyenangi IMM; jauh berbeda dengan organisasi lain. IMM telah membuatku menemukan ‘ruh’ku yang lama terkubur. IMM telah membuatku bisa bertemu dengan orang-orang yang akhirnya kuanggap keluarga. IMM telah membuatku merasa menjadi orang yang dibutuhkan. Intinya, IMM telah membantuku menemukan ‘barang-barangku yang hilang dan terkubur’.

IMM, aku harap kau jangan terbang melayang karena tahu bahwa aku sangat berterima kasih padamu dan sangat menyenangimu. He he he.. J . Dan aku rasa, bukan hanya aku saja yang merasakan hal ini. Banyak orang yang merasakan hal yang sama denganku, sehingga keberadaanmu (IMM,) sangat penting buat kami.

Namun, apakah kau tahu, kawanku IMM? Cinta tak selamanya bisa tetap cinta. Di balik cinta yang selalu dianggap luhur dan tetap, ia juga menuntut bukti. Orang bilang, cinta tak pernah meminta alasan tapi ia butuh balasan. Itu juga yang terjadi dengan sebuah cinta yang kuberikan untuk keluarga IMM ini. Ini bukan pasal pamrih, tapi ini adalah sebuah sunnatullah jika cinta ingin tetap menjadi cinta.

Aku selalu senang bisa mencintai dan masuk dalam keluarga IMM ini, namun di sisi lain banyak bukti yang tak bisa aku terima. Ketika aku mencoba dengan bekal kesetiaan dan ketulusan yang kumiliki, secara tidak langsung (mungkin) IMM sering membuat kesetiaan itu terus bersembunyi dan terkubur dalam keraguan. Ada beberapa hal yang sering membuatku lelah untuk mencintaimu.

Satu hal yang sering membuatku merasa goyah dengan cintaku adalah masalah perjuangan kita tentang trilogi. IMM punya tiga trilogi yang harus diperjuangkan: Intelektual, Humanis, Religius. Namun, menurutku, sampai saat ini gerak IMM belum maksimal untuk mewujudkan tiga hal itu. Gerak IMM hingga saat ini hanya sekedar memenuhi formalitas kepengurusan, bukan totalitas.

Program kerja memang sudah berorientasi untuk mewujudkan trilogi, namun geraknya lebih terasa seperti formalitas; bukan sebuah perwujudan idealitas. Atau… ini hanya perasaanku sajakah? Dan ada yang lebih parah. Program kerja yang disusun, akhirnya hanya menjadi wacana, wacana dan wacana. Sebatas wacana dan aktualisasi trilogi tidak ada. Kalau aku boleh bilang kasar: KETERLALUAN.

Kalau seperti ini, lalu apa beda kita dengan organisasi internal atau eksternal lain; kalau kita tidak bisa mewujudkan trilogi kita dengan baik? Aku masih ingat saat aku pertama kali masuk IMM, ditekankan bahwa IMM bukan hanya sebuah organisasi, namun PERGERAKAN. Yang kupahami, pergerakan selalu bergerak. Pergerakan selalu membawa ideologi untuk perubahan masyarakat. Pergerakan bukan hanya berisi program kerja, tapi mengandung perjuangan dalam membangun perubahan berarti di masyarakat.

Kalau trilogi hanya berjalan sebatas program kerja atau wacana, kita sama saja dengan organisasi lain. Bahkan (akan mungkin) lebih baik organisasi lain. Padahal hakikatnya, kita punya ciri khusus. Kita adalah bagian dari pergerakan Muhammadiyah yang memperjuangkan ideologi dan visinya. Artinya, sebenarnya kita bukan hanya bergerak untuk program kerja, tapi bergerak untuk mewujudkan trilogi IMM di lingkungan mahasiswa, terutama mahasiswa Muhammadiyah di kampus.

Dan kemudian, masalah aktualisasi trilogi ini dapat berdampak pada aktivitas dan elemen-elemen lain di IMM. Karena itu, masalah ini perlu segera dipecahkan dan diperbaiki. Apakah bisa kau memperbaikinya IMM? Kau tahu IMM, alasanku di IMM salah satunya karena ini adalah berjuang dengan Muhammadiyah. Kalau selalu begini, aku akan sulit untuk mempertahankan cintaku. Mungkin bukan hanya aku, tapi juga (mungkin) ada orang yang merasa seperti diriku.

Maafkan aku jika aku terlalu menuntut lebih padamu. Aku adalah sosok idealis jika sudah berkaitan dengan Muhammadiyah. Aku tak berharap IMM di Yogyakarta, terutama PK IMM di cabang IMM BSKM bisa menjadi seperti IMM di PTM-PTM. Tapi paling tidak, kita punya perasaan untuk selalu memperjuangkan Islam secara umumnya dan Muhammadiyah secara khususnya; di lingkungan kampus.

Maafkan aku jika uneg-uneg yang kusampaikan akan menuai banyak ketidak cocokan. Ini hanya sebatas pandanganku. Paling tidak, ini menjadi bahan refleksi untuk IMM. IMM, kau harus selalu berintrospeksi. Kau memiliki banyak orang dan teman disini. Saat kau kehilangan ‘ruh’, akan muncul kemungkinan bahwa orang dan teman tersebut akan pergi atau sebatas menganggapmu sebagai formalitas organisasi.

Masalah-masalah yang kau hadapi, IMM, hadapilah dengan semangat dan keikhlasan. Jangan pernah ragu untuk mengatasi masaslah itu. Ada aku disini yang siap membantu.

Aku memang ragu untuk setia jika IMM terus begini, tapi selama aku masih bersamamu di jalan perjuangan ini, aku akan selalu membantu dan men-support-mu dengan sungguh-sungguh. Selama kita masih bersama di jalan ini, aku dan kamu akan tetap selalu bergandengan tangan; menempuh rintangan bersama dan menikmati tawa bersama. Gerak keras, Gerak cerdas dan Gerak ikhlas.

Aku pernah mendapatkan kata mutiara dari temanku. Semoga dengan ini, langkah perjuangan IMM semakin mantap dan nyata,

“Jalani hidup kita seperti jalm dinding.

Dilihat orang atau tidak ia tetap berdenting, Dihargai orang atau tidak ia tetap berputar, Walau tak seorangpun mengucapkan terimakasih ia tetap bekerja.”

 Ingat, cinta ini tak butuh alasan … tapi balasan. Bukti nyata! Ok, IMM?

IMM, semangat Faskho!

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Dari:

Seseorang yang mencintaimu,

Aniez Tuing EZanefa

SHARE
Previous articleTeruntuk Merah*
Next articleSurat Cinta untuk IMM
Pimpinan cabang IMM Bulaksumur Karangmalang mewadahi kader IMM di UGM UNY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here