Sudah Besar tapi Masih Mengharap Salam tempel ?

0
48

Memberi angpau atau salam tempel di saat idul fitri merupakan sebuah kebiasaan yang lazim dilakukan oleh setiap orang didalam keluarga yang lebih tua kepada sanak saudara atau anak atau keponakan yang masih berada di usia sekolah. Bahkan bagi sebagian orang menganggap bahwa uang angpau merupakan teman sejati yang tak terpisahkan setelah kita melaksanakan sungkeman saat hari raya idul fitri. Pemberian uang angpau begitu identik dengan kebiasaan dari warga tionghoa terutama yang berada di Indonesia, pemberian uang angpau merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh setiap keluarga tioghoa bak itu yang tulen maupun peranakan saat mereka merayakan tahun baru imlek,

 

Istilah angpao dalam kamus berbahasa Mandarin didefinisikan sebagai “uang yang dibungkus dalam kemasan merah sebagai hadiah; bonus bayaran; uang bonus yang diberikan kepada pembeli oleh penjual karena telah membeli produknya; Sedangkan dalam tradisi arab ada yang dikenal pula tradisi yang seupa yaitu eidiyah atau kebiasana memberikan uang dalam bentuk pecahan-pecahan kecil kemudian diberikan kepada anak-anak yang dilakukan sekitar halaman masjid masjid.Kebiasaan ini dulunya merupakan tradisi yang dilakukan pada masa kehalifahan utsmaniyah

 

Tradisi memberi Uang angpau kemudian diadopsi oleh masyarakat di Indonesia yang biasa disebut dengan “Salam tempel “ tujuan diberikannya ialah sebagai motivasi ekstra bagi anak anak usia sekolah dan diberikan saat idul fitri sebagai sebuah apresiasi dan ganjaran atas segala upaya keras yang mereka lakukan selama bulan puasa ramadhan. Entah itu sebuah keberhasilan menjalankan puasa setengah hari, menulis catatan ceramah taraweh degan tanda tangan ustadz penceramah sebagai legitimasi atau tamat baca al-qur’an juz 30 dan lainnya. Uang angpau diberikan sebagai motivasi tambahan bagi setiap anak anak dalam menjalankan ibadah di bulan suci ramadhan dengan harapan meraka dapat menjalaninya dengan sukacita dan penuh semangat.

 

Kita sebagai anak dari orang tua kita, keponakan dari om dan  tante dan sebagai sepupu dari sekian banyak saudara saudara kita dan sebagai tetangga yang baik disekitar rumah kita selalu mendapatkan kesempatan emas ini untuk bisa meraih salam tempel dari banyak orang, kita hanya tinggal melakukan thawaf di sekeliling komplek atau seputaran desa kita tak lama setelah selesai menunaikan sholat ied di lapangan dengan harapan semakin cepat kita berkeliling, maka peluang kita dalam mendapatkan sebuah salaman yang ditempelkan dengan amplop berisis uang tunai akan menjadi semakin terbuka.

 

Karena kita sudah masuk katergori ‘udah gede “,orang yang sudah dianggap dewasa adalah orang yang sudah berusia diatas 21 tahun dan sudah memiliki pekerjaan yang tetap atau sudah berkeluarga.dan kita inilah yang nantinya kan menjadi sasaran empuk entah dari dari anak anak kampung sebelah atau keponakan keponakan yang memilik tas besar yang disiapkan oleh emak mereka yang siap untuk menampung seluruh angpau atau uang salam temple yang siap diberikan kepada merka dan menyambutnya dengan penuh gairah.

 

 

Akan tetapi tidak berlaku bagi anak anak yang sudah besar seperti kita ini,kita tidak mungkin melakukan ritual yang sering kita lakukan bertahun-tahun ,karena semakin bertambahnya usia dan bulu bulu lebat tanda kedewasaan secara fisik yang tumbuh di sekeliling badan membuat kita segan untuk melanjutkan ritual yang sudah menjadi rutinitas wajib ,dan kondisi tersebut membuat kita malah bertukar peran dan mulai bermunculan jelmaan anak anak kecil dengan tanpa  asa malu mulai membombardir dan merogoh kantung kita dalam dalam dan mulai dimintai sebuah salam yang tidak sekdar pakai cium tangan tetapi harus disertai dengan amplopnya. Hal ini tentu sebuah hal yang sangat menjengkelkan dan menyebalkan karena kita seperti harus menerima kenyataan bahwa kita tidak lagi bisa menikmati panen uang selama hari raya lebaran seperti yang biasa kita lakukan bertahun-tahun yang lalu

 

Akan tetapi seperti itulah siklus kehidupan,dimana kita pasti akan merasakan nikmatnya dierikan uang meskipun itu harus masuk kekantong emak dengan alasan lebih aman kalau disimpan dikantong emak,(tapi tetap sayang kok sama emak), dimana kita pasti akan merasakan apa yang namanya itu menjadi seorang yang akan memberikan salam tempel ke setiap anak.

 

Sebagai anak yang udah dianggap ‘gede’, kita harus mulai beralih peran dari seorang anak yang tiap tahun menerima salam tempel dengan membiasakan diri sebagai seorang yang memberi salam tempel kepada anak anak . Karena sudah jelas Rasullullah SAW mencontohkan bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah, jadi kita harus mulai berfikir bahwasannya sebagai seorang yang memberikan kebahagian untuk orang sekitar kita meskipun hanya sekedar beberapa salam tempel itu dapat memberikan sebuah kepuasan batin tersendiri khusunya bagi kita yang sudah besar (usianya) karena dengan memberi kita bisa menjadi orang yang lebih pandai bersyukur atas segala sesuatu yang sudah diberikan oleh allah swt kepada kita.

 

Jangan memaksakan diri kalau misalnya kita sebagai anak yang dianggap sudah dewasa tidak memberikan uang angpau kepada sepupu,adik atau ipar atau keponakan yang lebih muda jika kita belum mempunyai penghasilan yang tetap, akan tetapi jikalau memiliki kelebihan rezeki baik didpaat dari kerja sambilan atau yang lainnya sangat dianjurkan untuk memberikan sedikit kebahagiaan kepada anak anak seperti saat kita merasakan kebahagiaan yang sama saat kita mendapatkan angpau atau uang salam tempel dari sanak kerabat. Biarpun itu hanya sekedar selembar lima ribu,tapi kebahagian lah yang menjadi balasan terbaik buat kita.

 

Aulia Fathurrahman Darwis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here