Teruntuk Merah*

0
208

 Oleh Ivah Rahma Romadhona

Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PK IMM A.R. Sutan Mansur UNY

Hampir saja kutulis “dengan datangnya surat ini” pada awal kalimat, ah seperti aku baru mengenalmu saja. Atau “apa kabar?”, setega itukah aku hingga benar-benar tak mengetahui kabarmu. Atau mungkin “lama tak jumpa!”, apakah aku telah benar-benar meninggalkanmu? Ah! Betapa sulit aku menentukan sikap di hadapanmu.

Tak banyak orang yang tahu tentangmu. Kurasa di sini begitu. Mungkin karena ada nama Ayah di belakangmu, baru orang-orang agak mengetahui. Sekedar berkata, “oh” mungkin, lalu berlalu tanpa peduli lagi. Atau malah mengernyitkan dahi dan memilih menjauhi. Itu hanya karena mereka belum mengenalimu dan Ayah tentunya. Pernah ku menduga kalau mereka apatis, tapi tak lantas aku menuduh sebelum bertanya “memangnya aku pernah mengenalkanmu pada mereka?”.

Aku pernah menangis ketika melihatmu tampak lusuh, menyesali belum banyak hal yang kulakukan untukmu selama ini. Tapi ratusan kali aku menangis pun tak kan pernah bisa menguatkanmu. Kalau itu hanya berupa tangisan yang menyesakkan malam, kukira sudahlah tak usah diperpanjang. Namun mencintaimu juga tak cukup hanya membawamu ke mana-mana, sehingga mereka berkata, “Oh, itu Merah.” Mencintaimu juga tak cukup dengan koaran “aku mengenal Merah, aku bersamanya setiap hari”. Tanpa tahu siapa kau dan mengapa kau ada di sini, dan untuk apa mereka melihat kita bersama.

Tiga hati yang kau pegang erat, pernah ku lihat salah satu dari mereka memudar. Kalau dibiarkan terlalu lama akan makin mengenaskan. Dan aku akan semakin heran pada diriku sendiri. Apa saja yang kulakukan? Harusnya aku menjaga agar hatimu tak memudar walau hanya separuh. Mengapa justru aku yang membuatmu semakin rapuh? Padahal aku yang mengaku selalu bersamamu, menyatakan bahwa aku mencintaimu, dan membangga-banggakanmu pada mereka di luar sana. Tapi justru aku yang tanpa sadar menyakitimu.

Maaf Merah, mungkin kau kecewa denganku karena aku tak bisa memastikan banyak hal untukmu. Tapi dapat kupastikan kedatangan surat ini bukan untuk memutuskan hubungan kita. Aku masih tetap bersamamu. Walau aku bukanlah orang yang paling hebat, aku akan berusaha membuatmu tetap menjadi Merah dengan tiga hati yang utuh.

Terima kasih telah menjadi Merah dalam setiap semangat kebaikan yang menyungging senyum setiap orang. Banyak kisah yang tak mungkin kulupakan saat kita bersama.

Salam Fastabiqul Khairat

dari Seseorang

*Pemenang lomba menulis surat cinta untuk IMM dalam serangkaian lomba penyambutan milad IMM ke-51 dan milad cabang BSKM ke-11

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here