Ujian Spiritualitas Diri di Tengah Pandemi

0
48

Marhaban Ya Ramadhan, selamat datang di bulan yang mulia ini, bulan yang dimana Allah melipatgandakan amalan-amalan kebaikan, bulan dimana Alquran diturunkan untuk seluruh manusia dan bulan dimana manusia merindukan bulan yang mulia ini. Teringat pada akhir Ramadhan tahun lalu, umat islam sedih dan berdoa agar senantiasa dipertemukan pada Ramadhan berikutnya dan syukur alhamdulillah pada tahun ini masih diberi kesempatan dari yang Maha Pencipta untuk kembali bertemu bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Dipertemukannnya di bulan Ramadhan ini adalah suatu anugerah, karena tidak semua umat manusia pada Ramadhan tahun lalu dipertemukan kembali pada Ramadhan tahun ini. Berarti manusia yang kembali dipertemukan pada bulan Ramadhan ini adalah manusia pilihan Allah yang diberi kesempatan untuk muhasabah diri, bertaubat dan untuk mengabdi pada jalan kebaikan lainnya. Itulah kita, manusia penuh dosa dan kelalaian ini yang masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, maka sudah selayaknya kita memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin.

Ada suasana yang berbeda pada Ramadhan tahun ini, apalagi kalau bukan karena wabah yang melanda dipenjuru bumi ini. Banyak yang mengatakan tidak meriahnya Ramadhan karena tidak ada kegiatan di masjid, tidak adanya bukber dengan berbagai macam kelompok, tidak ada ngabuburit dan lainnya. Namun hati ini terasa berdesir mengingat petuah dari salah seorang ustadz yang pernah mengajarkan saya di pesantren dulu bahwa kerinduan pada Ramadhan terletak pada ibadah dan amalan-amalannya, bukan kemeriahan suasana yang bersifat seremonial saja. Kalimat itu yang mengetuk hati bahwa bagaimanapun kondisi yang bumi saat ini, Ramadhan tetaplah Ramadhan, yang dijanjikan Allah sebagai bulan yang mulia, bulan peningkatan amal dan peleburan dosa-dosa.

Himbauan baik dari pemerintah, MUI maupun ormas-ormas islam bahwa melakukan ibadah dirumah tentunya tidak menyurutkan semangat beribadah dan melakukan amalan-amalam lainnnya, apalagi membuat kita semangat kita menurun dalam beribadah karena suasana tidak semeriah Ramadhan tahun-tahunsebelumnya. Tidak dapat menunaikan shalat tarawih berjamaah di masjid bukan berarti meniadakan tarawih, tidak ada kultum di masjid bisa diganti di rumah. Tidak ibadah di masjid juga tidak boleh mengurangi keikhalasan dan kekhusuan kita saat beribadah di rumah.

Pada masa pandemi seperti sekarang ini, ujian spiritualitas diri kita sedang diuji oleh sang Pencipta. Bagaimana tidak, pada Ramadhan sebelum-sebelumnya banyak tempat bagi kita untuk beribadah, seperti masjid sudah pasti tersedia shalat berjamaah tarawih, tadarus Al- Quran di masjid, I’tikaf, dan lainnya yang kegiatan ibadah itu sudah ada yang mengatur dari pihak masjid dan kita tinggal menghadiri dan mengikuti dengan saksama. Namun pada  kesempatan ramadhan kali ini, individu setiap manusia sedang diuji apakah kita tetap bisa melakukan ibadah-ibadah layaknya Ramadhan sebelumnya, atau justru membuat kita enggan dalam  melaksanakan ibadah itu karena berbagai macam alasan.

Terutama bagi pasangan suami istri yang baru menikah ,bagi yang sudah dikaruniakan anak maupun sudah belum, bagi keluarga baru atau sudah lama.Ramadhan di tengah pandemi adalah ujian spiritual bagi mereka. Bagi para imam kelurga, apakah bisa membimbing anggota keluarganya untuk salat bersama, tadarus bersama, membuat jadwal ta’lim bersama dan ibadah lainnya.

Ada istilah al ummu madrasatul ula yang artinya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kata ibu jika diperluas adalah orangtua yang menjadi sekolah pertama bagi anaknya. Istilah tersebut benar-benar menjadi ujian spritualitas bagi kelurga. Saat inilah waktu yang tepat untuk kembali mengimplementasikan istilah tersebut untuk membimbing anak-anak kita. Membimbing ibadahnya, memberi contoh akhlak baik, memberi nasehat kebaikan dan lainnya. Maka dari itu, saatnya mengembalikan fungsi keluarga sebagai ruang pendidikan bagi anak-anak yang pertama.

Bagi anak, Ramadhan di tengah Pandemi ini juga merupakan suatu ujian spiritual. Ketika orang tua diuji menjadi imam spiritual bagi anak-anaknya, maka ujian bagi anak adalah belajar mendalami ilmu-ilmu keagamaan dan mengimplementasikan dalam bentuk ibadah sehari-hari. Belajar memompa semangat diri untuk membaca Al-Quran, memahami dan menghafalnya, bagi laki-laki yang sudah memasuki usia  baligh belajar bagaimana menjadi imam shalat untuk orangtua dan anggota keluarganya. Ketika di sekolah atau kampus mampu menjadi pilar di organisai, maka praktekkan dihapan orangtuamu bahwa kalian mampu menjadi pilar kebaikan bagi keluarga.

Apabila ada keterikatan dan kesinambungan pada keluarga, maka kebaikan-kebaikan senantiasa akan selalu hadir dalam keluarga tersebut. Terlebih pada masa pandemi ini, keluarga harus dikembalikan pada fungsi semula. Maka kelak apabila pandemi ini berakhir, setiap manusia akan merasakan dampak kebaikan-kebaikan yang bersumber dari keluarga itu sendiri.

Ketika kesadaran beribadah dan beramal sudah masuk dalam diri kita, saatnya menjalankan itu sebagai suatu tindakan ibadah kepada Allah, bukan hanya sebagai angan-angan bahwa kita ingin melakukan ibadah dan amalan-amalannya. Seperti pepatah bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali, secara akal sehat pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan, pasti akan berusaha memaksimalkan kesempatan itu semaksimal mungkin. Maka dari itu, marilah pergunakan waktu Ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya, maksimalkan apa yang kita punya, tebar kebaikan pada semua. Semoga senantiasa diberi kekuatan dan keikhalsan dalan menjalani ibadah Ramadhan ini.

 

(Tulisan ini pernah dimuat https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/04/26/ujian-spiritualitas-diri-di-tengah-pandemi/ dengan perubahan)

Muhammad Adib Syihabudin,Ketua Bidang Seni Budaya Dan Olahraga PC IMM Bulaksumur-Karangmalang 2019-2020 , Alumni dan Musyrif Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here