Warganet, Narsisme dan Teori Konspirasi di Media Sosial

0
118

 

 

Tom Nichols pernah membuat sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa “ Internet adalah media Anonim terbesar dalam sejarah manusia. Seseorang sendirian didepan layar atau gadget smartphone mereka dan terombang-ambing diberbagai situs web, berita elektronik dan sekelompok grup daring yang didedikasikan untuk membenarkan setiap dan semua gagasan.Salah satu kasus yang menjadi contoh adalah sebuah perbincangan yang sedang tren saat ini adalah tentang sebuah perdebatan di Media Sosial yang sedang dalam masa jayanya,Twitter.

 

Ketika kita melihat ada sebuah fenomena yang sekarang ini sedang marak-maraknya menjadi perbincangan di Twitter tentang merebaknya isu ada sekelompok orang yan berkolusi jahat yang menjadi dalang dibalik kejadian besar yang menimpa umat manusia sekarang, warga internet menyebutnya dengan Teori Konspirasi. Teori ini adalah sebuah narasi yang disusun untuk mengarahkan sebuah gagasan yang berasa dari fakta yang disusun sedemikian rupa dan dikombinasikan untuk mebenarkan gagasan tersebut dan cenderung tidak berbasis ilmiah agar nampak terlihat masuk akal.

Mereka memanfaatkan orang orang yang belum dapat menerima sebuah penjelasan ilmiah yang rumit dah cenderung langsung mengambil sebuah kesimpulan,dan mengabaikan kenyataan dirinya bahwa segala sesuatu pengetahuan yang masih jauh dari jangkauan pemikirannya. Tidak heran jika semisal mereka inilah yang meramaikan  jagat media sosial kita baik itu di youtube,twitter atau sejenisnya yang menjadi sebuah perbincangan dan banyak dilihat orang adalah yang berkaitan dengan sebuah Konspirasi.

Beberapa influencer dengan basis pengikut yang besar dan luas jangkauannya mulai berbondong bonding membuat konten serupa di platform milik mereka dengan membuat konten sejenis untuk menarik para viewers  dan membuat sebuah statement yang belum dapat dibuktikan kebenarannya dan ditambah lagi bumbu bumbu dapur yang mengandung unsur konspirasi. Mereka mencoba memanfaatkan para penguna media sosial yang masih mempercayai adanya sebuah Konspirasi yang mereka anggap sebagai sebuah kebenaran. Teori konspirasi juga menjadi sebuah faktor pendorong sifat narsisme yang kuat dalam merebaknya konten semacam itu.

 

Menurut Tom Nichols, Teori konspirasi amat menarik bagi mereka yang kesulitan memahami dunia yang rumit dan tidak memiliki kesabaran untuk penjelasan yang tak dramatis. Hal tersebut berdampak dengan semakin banyak orang yang masih awam sebagai followers akun nya untuk mempercayainya dan akhirnya ikut mengafirmasi gagasan tersebut secara membabi buta. Akhirnya dari situlah muncul sikap pembenaran-pembenaran atas tindakan yang menyesatkan banyak orang dan dan apabila ada yang berbeda pendapat,mereka inilah yang  balik mengecam setiap orang yang dan cenderung menutup ruang menutup ruang diskusi.

 

Hal tersebut amat disayangkan ,mengingat kita sebagai seorang yang dianugerahi akal fikiran untuk bisa memilih dan memilah mana yang sebenarnya baik untuk kita atau buruk bagi kita,tetapi kita tidak menggunakan nya dengan baik. Hal tersebut dicerminkan dengan tindakan mengembar gemborkan sesuatu gagasan atau teori yang belum bisa dibuktikan kebenarannya dan dengan cara yang keras dan menantang semua orang yang berbeda dengannya unutk berdebat. Dikhawatirkan lagi ,banyak orang yang percaya dan mendukung hal tersebut ,Jelas hal ini tentu memiliki dampak negatif dan merugikan orang orang disekelilingnya.

 

Mungkin kalau semisal yang melakukan tindakan tersebut adalah sebuah akun anonim sudah tepat bagi kita untuk tidak perlu memperdulikannya secara serius,akan tetapi akan berbeda jika seorang publik figur yang melakukannya. Hal tersebut perlu diluruskan dan dinasehati agar tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan banyak orang. Mereka memenuhi akun tersebut dengan cuitan yang penuh dengan kebencian, caci maki dan sumpah serapah.Mereka kecenderungan untuk membela si pembuat cuitan yang merupakan kawan satu base atau satu perkumpulan di twitter dan berupaya untuk membenarkan segaa sesuatu yang menurut mereka benar. Akan tetapi yang penulis dapati dari media sosial hari ini pun para pengguna twitter sebagian pun juga tidak menunjukan cara yang santun dalam upaya mengahadapi orang-orang seperti ini. Mereka malah cenderung untuk menghabisi karakter orang-orang yang dianggap menyebarkan isu-isu yang belum valid.

 

Hal ini jelas setali tiga uang dengan para pendukung dari statemen dari orang-orang yang mempercayai teori konspirasi.disaat para penganut itu secara keras kepala terus mempertahankan argumennya,sebaliknya setiap orang yang tidak menyukai gagasan tersebut lantas mulai menghakimi dengan cara yang kurang baik. Bukan berarti penulis juga ikut mengamini sebuah teori konspirasi,akan tetapi lebih kepada kritik tentang cara bagaimana kita .

 

Seseorang menulis sebuah tweet perihal akun yang terus-terusan diblokir meskipun sudah beberapa kali dibuat.ada seseorang yang berbicara di utas sebuah tweet,dia berkata bahwa kalau misalkan akun ini dianggap meresahkan masyarakat akibat lebih baik segera dilaporkan saja kepada pihak berwajib agar segera diambil tindakan, akan tetapi yang didapat justru respon negatif dari sebagian para warganet yang memihak si pembuat tweet bahkan sampai menuduh yang berkomentar tersebut sebagai seorang pendukung teori konspirasi dan fans garis kerasnya.

 

Menurut Imam al-Ghazali, perselisihan di dunia ini dipicu oleh ketidak sanggupan kaum bodoh untuk berhenti menanggapi hal yang tidak ia pahami dan kuasai dengan baik. Harus diingat pula, manusia senantiasa dalam keterbatasan.Berangkat dari perkataan tersebut mengingatkan akankah kita ini akan menerus berkubang pada berdebatan yang tidak berfaedah dan tidak ada titik temunya,jangan sampai kita termasuk dalam golongan golongan orang yang jahil atau bodoh tentu kita harus mulai bisa secara arif dan bijaksana dalam menyikapi  segala sesuatu.

 

Sebenarnya tidak semua perilaku para warganet seperti itu,akan tetapi beberapa oknum pengguna media sosial yang kurang bijaksana menjadikan stigma seperti tiu menjadi melekat kepada setiap pengguna media sosial terutama twitter. Pada akhirnya semua dikembalikan kembali kepada kita selaku para pengguna media sosial untuk selalu bisa bersikap bijaksana dalam menanggapi setiap informasi yang berseliweran bukan hanya sekedarmenjadikan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan informasi yang tidak valid dan  menjadi penyantap yang ganas kepada setiap sesuatu yang berbeda pandangan antar sesama warganet .

Aulia Fathurrahman Darwis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here